Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

KAU TETAP HIDUP TUA ENGE

Sebuah Penghormatan untuk P Alfons Engels SVD

Saya mengenang Pater Alfons Engels SVD atau Tua Enge dari beberapa peristiwa. Pertama, Dia adalah guru bahasa Jerman kami. Dengan buku jilitan Wir Sprechen Deutsch yang nyaris usang, Tua Enge menulari kami bahasa ibunya itu. Kendati Bahasa Jerman baru mulai diajarkan pada kelas lima Seminari atau kelas dua di Sekolah Menengah Umum pada masa kami, Tua Enge tidak mau tahu. Dari jam pertama pelajaran hingga detik terakhir, Tua Enge tancap gas dengan Bahasa Jerman. Kami seperti diceplung Tua Enge pada kolam yang dalam, walau kami tidak bisa berenang. Lantas, sekuat tenaga kami harus menyelamatkan diri. Tetapi, lama kelamaan kami jadi tahu berenang (baca: Bahasa Jerman) karena belajar dari pengalaman.

Ada yang lucu selama Tua Enge jadi guru Bahasa Jerman. Tua Enge pernah kentut di depan kelas saat dirinya jongkok untuk menulis kata-kata pengecualian dari jenis kata Maskulin. Menyadari dirinya kentut, lantas Tua Enge berbalik, "Ups...tadi makan buncis!" Tua Enge yang terkenal konsisten dan disiplin itu pun melanggar peraturannya sendiri. Itu seruan Bahasa Indonesia pertama dan terakhir untuk kelas Bahasa Jerman.


Mungkin karena sudah terbilang tua, Tua Enge sering keceplosan menyebutkan kunci jawaban untuk soal ujian di depan kelas. Kami sungguh memanfaatkan kelemahan ini. Secara bergiliran kami akan bertanya, seolah-olah soal-soal itu tidak jelas. Lalu Tua Enge akan membaca ulang soal-soal itu dan diakhiri dengan menyebutkan kunci jawaban a,b,c, atau d. Lumayan kalau yang bertanya sekitar 10 orang.

Tentang orang sakit, Tua Enge yang paling bertanggung jawab. Romo Bernadus Sebho, seorang Kepala Sekolah bahkan mendapat tamparan dari Tua Enge karena kurang cekatan membantu meluruskan tangan seorang siswa yang patah. Namun, hal kedua ini yang saya ingat. Tua Enge tidak berdaya atas "kegilaan" Pater Elias Doni Seda.


Pater Elias adalah perfek SMP kala itu. Tidak sekali dua, Pater Elias mengusir kami dari kamar tidur pada malam hari atau jelang subuh karena ulah satu dua siswa yang ribut. Malam itu di tahun 1992 kami baru saja selesai berdoa. Tidak mau diusir lagi dan menginap di luar beratapkan langit, kami kunci mulut. Benar-benar silentium magnum karena memang tidak ingin tidur kami terusik lagi. Sebagian siswa malah sudah masuk dalam selimut.


Sekonyong-konyong Pater Elias membunyikan lonceng dan meminta kami untuk segera mengangkat tempat tidur keluar. Malam itu kami wajib mengosongkan kamar tidur. Kami diinstruksikan untuk slaber ruangan kamar tidur, mengeringkannya, dan memasukkan kembali tempat tidur. Sekitar Pukul 03.00 WITA barulah kami diizinkan tidur.


Malang bagi siswa yang sakit dan beristirahat di kamar tidur. Bagi Pater Elias, merekalah biang keladinya. Tongkol jagung sisa makan malam hari itu berserakan di bawah kolong tempat tidur. Hal ini yang menyebabkan "kegilaan" Pater Elias kambuh. Lantas sekitar 10 siswa yang sakit dan beristirahat di kamar tidur itu pun disuruh berlutut di halaman tengah, persisnya di halaman depan Aula SMP.

Beberapa Romo pembina sudah meminta supaya orang sakit jangan dihukum. Tetapi Pater Elias tak bergeming. Barangkali senioritas Tua Enge bisa melumpuhkan ketegaran hati Pater Elias. Sekali lagi Tua Enge meminta supaya Pater Elias membebaskan orang sakit dari hukuman itu. Malam dingin dan berkabut seperti Mataloko sangat tidak baik untuk orang sakit Malaria seperti 10 siswa itu dihukum berlutut. Namun, Pater Elias tetap tak bergeming.


Tua Enge hanya bisa mengurut dada dan menggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali ke kamar. Kabarnya, Tua Enge langsung berdoa.


Semula saya tidak mempercayai kalau Tua Enge itu bisa salah cabut gigi yang sakit. Tabib sekelas Tua Enge tidak mungkin salah. Tetapi, Pak Ambros Sina, guru musik angklung dan kulintang telah mencucukkan mata saya untuk percaya. Demikian halnya Mr Steve Sahaba, guru Inggris asal Manggarai. Ini hal ketiga yang melekat dalam ingatan saya.


“Pak Ambros kok dua pipi itu masih bengkak. Sudah ke Pater Engels?” tanya saya.
“Sudah. Tapi Pater salah cabut. Gigi saya yang sakit sebelah kanan, Pater cabut sebelah kiri.” Jawab dia.
“Kenapa tadi tidak mau bilang sama Pater?” tanya saya lagi.
“Saya takut Pater marah jadi saya tahan sakit saja.” Kata dia.
“Ke Pater lagi supaya cabut gigi yang sakit.” Anjur saya.
“Tidak mau lagi. Nanti salah cabut lagi.”


Dalam hati saya membatin, “Tuhan, tolong maafkan saya, sesungguhnya bukan kehendak saya.” Lalu membuncahlah tawa saya menyesaki lorong di antara Kamar Makan Unit C dan Polik Seminari.


2


Saya dan teman-teman angkatan yang masuk Seminari Mataloko pada 1992 atau yang lulus pada 1997/1998 sesungguhnya mengenal totalitas sosok Tua Enge pada periode usianya sekitar 73 hingga 79 tahun. Lalu saya berjumpa lagi dengan Tua Enge pada periode usia 84 hingga 86 tahun di Seminari Mataloko. Tepat ketika Seminari Mataloko tengah mendulang usia intannya pada 2005.


Ada warna yang berbeda dari totalitas Tua Enge pada dua periode tersebut. Pada usianya yang menginjak masa 70 tahun, Tua Enge masih menjadi guru Bahasa Jerman. Tetapi, Tua Enge sudah bukan lagi guru ilmu alam, olahraga, dan baris berbaris. Kendati masih sering terusik dengan baris berbaris siswa yang tidak rapi, Tua Enge sudah tidak bisa menipu usia. Namun kami tetap beruntung. Kami masih mengenyam gemblengan dari sisa kecil guru serba bisa hasil racikan pendidikan gymnasium tempo dulu. Sebab, di tangan mereka, apalah artinya sebuah profesi tanpa totalitas. Karena itu, kami tidak saja mempelajari Bahasa Jerman, tetapi juga menyerap sebuah peradaban, ilmu hidup, dan logika hati. Kecuali, mungkin soal buang angin di depan kelas.


Saat menjalani usianya di periode 80 tahun, Tua Enge sudah tidak mengajar sama sekali. Bahasa Jerman diambil alih mantan siswanya Romo Beni Lalo. Aktivitas di polik sudah mulai berkurang, sejak Tua Enge jatuh di tangga depan polik. Hidupnya praktis bersalin dari kamar pribadi, kapel, dan Biara Karmel.


Ruang geraknya yang mulai terbatas itu tidak pernah mengendurkan kurban dirinya bagi sesama dan Tuhan. Bagi Seminari Mataloko, semua mantan muridnya, anak-anak asuhnya di Polik, dan semua yang sudah sedang menetek dalam kurban dirinya, Tua Enge adalah elemen yang tak terpisahkan. Dia berdiri dan terhubung pada lingkaran komunitas itu. Tanpanya, individu dan kelompok dalam komunitas itu tidak akan pernah terhubung atau disebut lingkaran.


Jika kita percaya bahwa hidup, individu-individu, dan Tuhan adalah Providentia Dei. Lalu kita terhubung satu sama lain berkat pancaran dari logos Allah, yaitu sebuah persekutuan yang tak terpisahkan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Lantas, posisi Tua Enge tidak berlebihan adalah personifikasi Bapa, yaitu Dia yang berdaya menciptakan dan mengilhami. Kita tidak lebih dari Putra yang hingga kini terus menerus dicobai dari Padang Gurun hingga ke Taman Getzemani hanya untuk sekedar mengiyakan Jalan Salib.


Bahkan saat ini, tatkala Tua Enge hanya bisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hidupnya bergantung pada tabung oksigen dan uluran tangan orang lain. Namun, sesungguhnya Roh Kudus yang meruah dalam diri Tua Enge, dalam perjalanan totalitas dirinya yang panjang, tengah hidup dan mendorong Putra-Putra di medan tempur untuk meneladaninya. Sebab, yang ditunjukkan Tua Enge sudah lebih dari cukup untuk tidak bisa dicapai, kecuali ketika terus menerus Putra-Putranya dicobai. Dan di sinilah posisi Tua Enge sebagai yang mencipta dan mengilhami, sebagai Bapa. Untuk itu, Tua Enge tidak bisa tergantikan. Dia akan terus hidup, bergerak, mencipta, dan mengilhami dalam ruang terbatasnya sekalipun.


3


Tua Enge dikabarkan dalam kondisi kritis dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Bajawa pada 7 Februari, malam kemarin. Menempati salah satu tempat tidur di Ruangan ICU RSU tersebut. Itu berita yang kami dengar dari Almamater. Berita itu cepat tersebar ke segala penjuru dunia melalui jejaring sosial, poros kekuatan abad ini. Gelombang informasi itu membangunkan kembali memori Putra-Putranya di medan tempur. Putra-Putra kembali ke basis lingkarannya, kepada komunitas, dan asal muasal dirinya.


Serta merta doa pun terpanjatkan dari bibir sejumlah Putera di mana pun berada. Lingkaran, komunitas, dan persekutuan itu sepertinya mendapat api Roh Kudus baru. Lidah apinya menjilat dan membakar, terutama demi pembasuhan dan pembaruan.


“Terima kasih untuk kasih, teladan, dan kesetiaanmu merawat kami. Salam dan doa kami menyertaimu, semoga kasih-Nya menemanimu di usia senja ini,” ungkap salah satu mantan muridnya dari Roma.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Turut mendoakan Pater mewakili teman-teman dari Surabaya. Teringat semangat kasih dari Pater yang tiada taranya merawat seminaris yang sakit. Viele Danke, God Bless You,” kicau alumni Seminari Mataloko dari Surabaya.
“Doa kita untuk Pater. Pribadi yang luar biasa, imam yang saleh dan suci, penolong banyak orang. Pater, Tuhan memberimu yang terbaik. Doa dan cinta kami,” ujar alumi Seminari Mataloko dari Jakarta.  
“Pater pribadi yang ulet, lincah, gesit, disiplin, serta sosok yang nyaris sempurna. Doa kami menyertai Pater.” Kata salah satu alumni Seminari Mataloko dari Depok, Jawa Barat.


Tidakkah kita menyadari ini, bahwa lingkaran doa dalam komunitas, sebagaimana layaknya sebuah perayaan ekaristi tengah terbentuk dari doa dan refleksi kita akan sosok Tua Enge? Dia sekali lagi menjadi tabib dan guru yang melampaui semua sekat dan batas dan mengajak kita untuk berdoa, refleksi, dan membarui diri tentang kurban kita.


Doa, refleksi, pembaruan diri, dan kurban. Rupanya inilah resep umur panjang Tua Enge. Seorang yang beruntung saya kenal di hari-hari terakhir hidupnya, yang menjalani hidupnya sama seperti Tua Enge mengatakan kepada saya. “Hidup, apa itu hidup kalau bukan pengabdian. Jika kita berhenti mengabdi dan merencanakan hidup, Tuhan pasti akan berkata untuk apa berlama-lama menahan orang ini. Lebih baik cepat Saya panggil orang ini sebelum dia berbuat dosa lagi.” Dan betapa bahagianya dia, “Orang yang saya kenal itu meninggal pada usia 77 tahun di saat dia sedang merencanakan hidup dan mengabdi kepada sesama.”


Benar. Bahkan rencana Tuhan pun dikudeta hanya oleh sebegitu berharganya pengabdian yang tuntas kepada sesama. Nabi Nuh dalam Kisah Air Bah begitu sulit mencari dua tiga orang yang mengabdi secara tuntas kepada sesama dan Tuhan, hanya supaya membujuk Tuhan untuk tidak menurunkan Air Bah.


Tua Enge dulu dan kini sudah melampaui dirinya dan keterbatasan ragawinya untuk mempersembahkan diri kepada sesama. Atas cara itu, Tua Enge sedang mengorbankan dirinya di atas altar untuk sebuah ekaristi dari perayaan persekutuan kepada Bapa Putera dan Roh Kudus. Dia selalu menjadi “roti” dan “anggur” yang menghidupkan dan menyalakan api, agar Putra-Putranya tidak jemu-jemu berdoa, refleksi, membarui diri, dan berkurban. Teladan hidupnya selalu akan menjadi mesin waktu untuk mengingatkan kita soal resep umur panjang dan cara mengkudeta rencana Tuhan.


Yah, benar. Tuhan telah membangunkan Tua Enge dari masa kritisnya karena Tuhan masih membutuhkan kehadiran Tua Enge untuk menghidupkan dan menyalakan api pada ekaristi komunitas. Karena Tua Enge telah menyulut bibir dan hati kita untuk berdoa, refleksi, membarui diri, dan berkurban. Dalam dan melalui Tua Enge, sebuah simbol tentang biji sesawi itu tengah berbuah lebat dan memetik panen di kebun Tuhan.


Tua Enge, kau akan tetap hidup dalam lingkaran hati, jiwaku, komunitasku, gereja, dan bangsaku.(*)   

Jumat, 10 Desember 2010

Selamat Ulang Tahun Louiza

Teringat setahun pada 10 Desember yang lalu. Gerimis tidak berubah. Desember selalu menetaskan berkah di akhir tahun. Kendati dingin, 10 Desember selalu emosional. Hari ini, setahun dan berpuncak pada dua tahun yang lalu, anak kami Louiza Magnifica hadir sebagai buah cinta kami.

Setahun lalu, Louiza belum banyak bicara. Tangan mungilnya sudah pandai menggapai dan memeluk. Kegembiraan dan pesona jiwanya terpancar purna dari raut mukanya. Bila senang dia tertawa. Bila menangis dia menitikkan air matanya. Belum ada kata-kata yang terucap dari bibir mungilnya. Kecuali ciuman, pelukan, rengkuhan, dan kemanjaan. Demikian cara Louiza membahasakan isi hatinya.

Pada 10 Desember di tahun lalu. Tidak ada kue ulang tahun. Louiza pun belum mengerti apa artinya ulang tahun. Dia hanya bisa tertawa lebar, memeluk dan mencium, tatkala mata mungilnya menyambut pagi. Kecupan demi kecupan mendarat di pipi. Selamat ulang tahun, Louiza. 

Betapa senang hatinya. Di sudut kamar sebuah sepeda baru diletakkan. Serta merta Louiza turun dari tempat tidur. Dihampirinya sepeda baru itu dengan tertawa lebar. Berbinar-binar matanya menandakan keriangan hatinya. Dalam sepersekian detik, Louiza sudah berada di atas sepeda sambil memegang kedua setir. Itu hadingah pertama di hari ulang tahun yang pertama.

Hari itu Louiza tidak pernah lepas dari sepeda barunya. Entah di dalam atau di luar rumah, Louiza tetap ingin di atas sepeda. Semacam ada ketakutan hadiah itu cuma sementara. Sekedar menyenangkan hati, lantas dikembalikan. Dia tidak ingin kehilangan dunia anak-anaknya di sebuah tambatan hati atas sepeda baru.

Sehari menjelang ulang tahunnya di usianya yang menginjak dua tahun, Louiza ingin meniup lilin. Dia bernyanyi, “tiup lilinnya, tiup lilinnya” tatkala mamanya membisikkan bahwa hari ini Louiza berulang tahun. Louiza kini tidak lagi sekedar memeluk dan mencium. Kata-kata telah mampu mewakili isi hatinya. 

Sebuah lilin menyala hari ini, tepat ketika Louiza membuka matanya. Louiza menyadari lilin ulang tahunnnya telah menyala. Sejenak dia memandang lilin ulang tahun itu. Seolah Louiza sedang mendaraskan isi hati dan keinginannya. Kami menyanyikan selamat ulang tahun. Louiza tertawa lepas. Kami meminta Louiza meniup lilin di akhir nyanyian perayaan kecil itu. Sekali tiup masih gagal. Dua kali gagal. Dan kali ketiga, lilin itu benar-benar padam. Selamat ulang tahun Louiza.
                                                            ***
Seringkali ada perasaan bersalah. Setiap harinya Louiza hanya bisa berceloteh dengan kami pada pagi hari. Satu dua jam yang tidak efektif. Selanjutnya waktu kami habis dalam pekerjaan. Ketika kami kembali ke rumah, Louiza telah pulas. Kami cuma bisa memandang wajah pulasnya, sisa kegembiraan bermainnya, atau goretan kecil pada kulit akibat kenakalan sebagai anak.

Kadang Louiza bangun di tengah malam. Dia Nampak gembira mendapati dirinya diapati papa dan mamanya. Louiza mengajak kami bermain sepanjang malam. Bahkan hingga pagi menjelang. Kami mencoba meladeni rasa kangen dan kerinduan kasih sayang Louiza. Menemani Louiza bermain apa saja. 

Tetapi, kami bisa saja tertidur. Membiarkan Louiza sendiri mencengkeram malam. Pelupuk mata dan kerja pikiran yang sudah terkuras kadang tidak bisa berkompromi dengan rasa kangen Louiza. Atau, kami menjadi ‘terpaksa’ dan lebih berharap Louiza kembali tertidur. Nampak kami egois dan untuk itu kami mesti meminta maaf pada gadis kecil kami yang selalu membuat hati kami gembira di saat pulang ke rumah.

Hari Sabtu dan Minggu adalah jatah Louiza. Tetapi tidak selalu kami bisa menepati jatah itu. Sabtu dan Minggu bahkan kami disibukkan dengan pekerjaan. Louiza kembali kehilangan haknya bercengkrama bersama papa dan mamanya. Untuk itu pula, kami mesti meminta maaf pada Louiza.

Kami selalu ingin membahagiakan Louiza pada setiap kesempatan. Kami ingin memenuhi pengalaman eksistensialnya di masa kecil dengan cahaya kebahagiaan oleh kehangatan dan kasih sayang. Membahagiakan dan memanjakannnya kadang bedanya sangat tipis. Tetapi kami berupaya agar kebahagiaan yang terpancar itu bukan bersumber dari kemanjaan. Louiza mesti mandiri. Untuk mandiri, Louiza perlu bahagia dan menjadi percaya diri karena merasa didukung penuh oleh kehangatan dan kasih sayang.  

Satu dua kegagalan kadang kami sadari. Dengan begitu kami belajar menjadi dewasa sebagai orang tua. Louiza tampil sebagai guru, yang mengingat dan menegur kami melalui caranya mendekati dan berkomunikasi dengan kami. Untuk itu, kami perlu berterima kasih pada gadis mungil anugerah terbesar kami.

Pada ulang tahunnya yang kedua ini, kami mengajak Louiza ke sebuah panti asuhan. Louiza berbagi kebahagiaan bersama teman-temannya di panti asuhan. Bahwa dirinya sebagai Magnifica adalah anugerah bagi semua orang. Bahwa hidup itu tidak lain pemberian bagi sesama. Louiza telah menjadi anugerah, sebuah mukjizat bagi kami. Sekarang, Louiza adalah magnificat  bagi semua orang.(*)

Rabu, 29 September 2010

Pengadilan Moral di Mata Ibunda Susno Duadji

Sebuah stasiun televisi sempat mewawancarai ibunda Susno Duadji sebelum memulai persidangan pada Rabu (29/9). Dari pengakuannya, ibunda Susno Duadji sangat sedih dengan kondisi carut marut masalah yang membelit anaknya. Susno Duadji, sesuai pengakuan ibundanya, merupakan anak yang sangat baik di mata keluarga.

Lantas doa sang ibunda pun keluar. “Saya berdoa mudah-mudahan Allah memberi jalan yang terbaik buat ananda. Sekarang ananda sedang diuji. Mudah-mudahan ananda diselamatkan Allah dan menjadi semakin beriman terhadap Allah. Mudah-mudahan Allah menyelesaikan semua masalah ini dengan baik,” ujar ibunda Susno Duadji.

Ibunda Susno Duadji tidak sedang membohongi publik tatkala mendaraskan doa untuk anaknya. Dari aura wajahnya, dia tidak sedang berkepentingan untuk menarik perhatian publik supaya merasa senasib sepenanggungan, bahkan mengharapkan dukungan atas penghakiman Susno Duadji. Ibunda Susno juga tidak sedang bertindak sebagai ‘penyapu halaman’ yang menjustifikasi keberadaan dan ucapannya untuk memberi citra positif terhadap Susno Duadji pada persidangan tersebut. Kehadirannya semata-mata untuk memberikan dukungan moril pada anaknya.

Kendati demikian, doa yang mengalir dari bibir ibunda Susno Duadji serentak mengalirkan gelombang besar terhadap sisi keberimanan dan moralitas bangsa ini. Ketakutannya terhadap Allah menunjukkan betapa dalamnya keberimanan dan moralitas ibunda Susno Duadji. Pada satu sisi, dalam pandangan keberimanan ibu, Susno saat ini sedang diuji. Ujian itu mesti dilalui Susno. Lantas, (mudah-mudahan) Susno menjadi semakin beriman terhadap Allah. Karena Allah akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Allah seperti yang ditampilkan pada rangkaian doa ibunda Susno Duadji tidak lain adalah Allah yang mahakuasa, maha adil, dan maha baik. Kekuasannya yang maha besar itu seharusnya menisbikan semua kekuasaan lain, allah-allah lain, karena hanya satu Allah yang mahakuasa. Artinya, keberhalaan pada kekuasaan yang lain melampaui kekuasaan Allah merupakan perbuatan tercela, terutama ketika dengan sengaja dilakukan bertentangan dengan buah keberimanan dari ajaran dan perintah Allah.

Keberhalaan itu bisa muncul akibat manusia haus akan kekuasaan, materi, dan kehormatan sehingga kepatuhan dalam keberimanan yang mutlak dan satu-satunya dipasrahkan pada Allah yang mahakuasa itu akhirnya disingkirkan. Keberhalaan itu pun terang-terangan melawan kemahakuasaan Allah, karena mementingkan diri sendiri, kelompok, atau golongan demi kepentingan tertentu.

Ada rangkaian paralel antara Allah yang diimani Ibunda Susno Duadji sebagai Allah yang maha baik dengan sosok Susno Duadji di mata ibundanya. “Susno Duadji itu anak yang baik di mata keluarga.” Arti baik dalam kategori profil Susno yang diungkapkan ibundanya tidak lain bersumber pada keberimanan ibunda akan Allah yang maha baik. Artinya, Susno bukanlah kejelekan absolut, yang sejak awal adanya selalu menjadi biang kerok kejahatan. Susno itu baik, sudah pernah, sekarang, dan yakin akan baik di masa mendatang. Hidup dan kebaktian Susno, termasuk hati dan pikiran kemanusiawian Susno tidak semata-mata terdiri atas kejahatan.

Jika saat ini Susno tengah diadili, ibundanya menyakini bahwa Susno sedang diuji. (Mudah-mudahan) Susno semakin beriman dengan kejadian ini, karena Allah akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Bagi ibu, Allah itu maha adil. Pengadilan Allah selalu bukan menghukum tetapi dalam arti diuji. Pengujian itu bermaksud menarik kembali sisi spiritual Susno supaya kembali beriman pada Allah. Dalam masa pengujian itu, Allah akan menunjukkan sifat-Nya yang maha adil dan memulihkan kembali citra dan kemakhlukan Susno. Karena itu, Susno diajak untuk keluar dari berhala, dari perhambaan pada allah-allah lain, untuk tunduk pasrah pada keberimanan pada Allah yang mahakuasa, mahabaik, dan maha adil tersebut.

Pengadilan manusia cenderung berlawanan dengan motivasi, keberimanan, dan moralitas ilahi. Pengadilan manusia sering menghadirkan stigma dan mematikan pucuk harapan manusia untuk bertumbuh kembali setelah berguguran. Pengadilan manusia mendakwa, memidanakan, menjatuhkan hukuman, dan memenjarakan. Sementara itu, pengadilan ilahi menobatkan untuk membebaskan. Pengadilan manusia memecat, sedangkan pengadilan ilahi menjadi manusia baru.

Harapan ibu, Susno bisa keluar dari pengadilan manusia melihat kejadian dirinya sebagai pengadilan moral, pengadilan ilahi. Dalam dirinya, Susno hanya perlu membebaskan prasangka sendiri sehingga pucuk harapan yang pernah hidup dan kini meredup layu, kembali menemukan tanah suburnya sehingga bertumbuh lagi menjadi manusia baru. Penjara manusia hanyalah jebakan dengan seutas tali pada leher. Tetapi, jika berhasil keluar dari prasangka penjara manusia itu, setiap orang yang terpenjara akan terlahir baru sebagai manusia yang bertunas.

Harapan ibu juga menjadi harapan semua orang. Sebenarnya. Karena semua orang tidak ingin dihakimi, dipenjara, melainkan dibebaskan dan memperoleh pertobatan.(*)


Rabu, 08 September 2010

Gereja Perlu Bertobat

Sebelum Mengkritik

Gereja masa kini mentautkan dirinya dengan dunia politik, ekonomi, dan sosial. Sikap gereja itu bersumber pada keprihatinan atas pencapaian visi keadilan dalam kerangka rencana keselamatan ilahi.

Sebagai nabi yang menyuarakan rencana keselamatan ilahi, gereja bersandar pada definisi already but not yet. Bahwa keselamatan itu mesti sudah dimaklumkan kepada segala bangsa melalui gerbang surga yang dibuka Yesus pada peristiwa golgota dan kebangkitan di hari ketiga, yang merupakan puncak dari pengalaman Bapa-Bapa Bangsa dan Bangsa Israel. Karena itu, keselamatan juga mesti dimaklumkan saat ini (in present), seperti nas yang digenapkan Sang Putera itu dengan berpihak pada keadilan dan kebenaran.

Gereja juga selalu berpegang pada misterium lunae. Suara kenabian itu semestinya dibagi-bagikan secara cuma sebagai pancaran dari Sang Logos yang satu dan mahakuasa. Artinya, kebenaran yang terpancar itu (logos spermatoikos) tidak berasal dari diri gereja, melainkan merupakan pantulan dari Sang Guru. Gereja adalah bulan yang tidak bisa bersinar tanpa matahari, tanpa melekat, berguru, berdialog, dan mengambil bagian secara personal (ekaristi) bersama Sang Guru. Kebenaran gereja selalu bersumber pada kebenaran Sang Guru, tidak pada kemauan manusiawi, tetapi bersandar pada iluminasi dan prokreasi dengan Sang Guru.

Dalam terang itu, Gereja perlu merenungkan kembali arti inkarnasi. Bukan sebagai peristiwa Allah yang mendatangi manusia di Bethlemen, tetapi lebih kepada keyakinan membangun dialog melalui pikiran, peristiwa, dan denyut kehidupan manusia. Inkarnasi sebagian berarti inkulturasi, sosial karitatif, profetis, dan altar. Dalam semangat itu, gereja selalu berada dalam dua kutub. Pada satu sisi, gereja aktif berkiprah di tengah pergumulan, entah dalam komunitas, kerumunan, maupun chaos. Sedangkan sisi lainnya, yaitu kembali ke bukit, ke tengah kesunyian untuk berdoa dan bergumul pada persekolahan para murid.

Puncak dari kutub pertama adalah peristiwa perkawinan di Kana atau peristiwa roti dan ikan yang digandakan untuk memberi makan lima ribu orang. Peristiwa salib merupakan teladan spiritual yang heroik dan merupakan salah satu puncak dari karya profetis. Sementara itu, perjamuan malam terakhir adalah simbol perayaan umat, makan dan minum dari hasil kebun dan ternak.

Setelah Sang Guru mengajar dan ingin mengasingkan diri dengan perahu ke tempat sunyi, banyak orang malah mengikuti Dia. Hingga menjelang malam, orang banyak itu tidak juga beranjak pergi. Lalu, murid-murid Sang Guru meminta Dia untuk menyuruh banyak orang itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.

Namun, Sang Guru berkata lain, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Lalu para murid-Nya memberikan lima roti dan dua ikan kepada Dia, dan Dia pun memecahkan roti sehingga semua orang bisa makan.(bdk. Matius 14:13-21). Sang Guru telah memberikan contoh bahwa gereja tidak saja berkotbah, mengajar, mengkritik, tetapi wajib memberi makan banyak orang.

Puncak dari kutub kedua adalah peristiwa di Gunung Tabor, ketika Tuhan berubah rupa. Juga peristiwa Emaus. Ketika Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke Kemah Tabor dan berubah rupa di sana, mereka tidak menemukan Yesus yang mereka kenal di dunia. “Ini Elia, Musa, atau siapa?” Dalam kebingungan tersebut, mereka merasa ada satu suasana lain dari sisi keterbatasan kemanusiaan mereka. Ada rasa damai, nyaman, sebuah pengalaman kerohanian yang tinggi, yang dialami sebagai katarsis iman, melampaui pengalaman keseharian.

Akhir dari cerita itu, Yesus memberikan gambaran tentang masa depan menyangkut nasib-Nya. Ia akan menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga. Yesus berbicara apa adanya. Tidak juga memaksa ketiga rasul-Nya itu percaya. Dia membiarkan kemanusiaan Petrus, Yakobus, dan Yohanes mencerna sendiri. Tidak mudah untuk mengerti memang. Karena pikiran ketiga rasul itu sangat terbatas, atau terpenjara dalam keterbatasan pengetahuan dan kemauan untuk belajar. Padahal, pintu masuk dalam katarsis iman tersebut sudah tersembul dan ketiganya tinggal melangkah untuk menikmati pencerahan baru. Petrus, Yakobus, dan Yohanes lebih memilih memandang peristiwa tersebut dengan kaca mata budaya mereka. Ketiganya tidak berhasil masuk dalam “circumtance” kemah Tabor. Kemah Tabor, bagi mereka, adalah dunia hunian biasa yang juga terisi oleh pandangan lokal yang membudaya, mengakar kuat, dan sulit untuk dilepaskan.

Kalau pun Yesus berubah rupa di Kemah Tabor, melampaui raga manusiawi-Nya dan muncul dengan rupa baru yang suci, itu berarti Yesus mau supaya manusia menyelam ke dasar kemanusiawiannya. Mencoba menemukan sisi terdalam dari keterbatasan tersebut. Lantas, mengakui bahwa cita-cita ilahi sebenarnya yang terkandung di dalam raga yang rentan itu adalah berada dalam kondisi purna, yang ilahi dan yang tanpa batas. Sisi terdalam tersebut tidak pernah ditemukan dalam rupa pakaian modern yang gemerlapan, atau dalam suasana ad presens. Yang Yesus tunjukkan adalah sebuah kepekaan untuk “berganti, bertobat, menyadari keadaan lebih dari yang terjadi,” dari yang mudah rapuh, terpenggal, terbatas, pada sesuatu yang sifatnya tidak terbatas, lebih tahan lama, menuju sumber inspirasi baru. Atau dari lipstik pembicaraan, menuju pada berita yang layak untuk diwartakan. Dari yang tidak sekedar sensasional, meminjam Ratzinger, menuju pertobatan yang radikal.

Pewartaan di mimbar berbeda dengan media tulis. Mimbar sarat etika, post factum, bahkan bersifat eskatologis. Sementara itu, media tulis mengandalkan durasi in factum, tak harus bersentuhan dengan pesan moral, demi memenuhi hasrat ingin tahu sesaat. Boleh jadi media tulis memberi jejak pada ingatan, tetapi yang tersimpan hanyalah pesan pada sebuah kepentingan. Tidak lebih untuk mengklaim sebuah tujuan, atau tidak selamanya mengabdi pada kebenaran. Karena itu, media tulis selalu bertangan besi, atau menggembirakan atau menyakitkan. Tidak ada harapan untuk masa depan dengan hasil akhir yang melegakan.

Dalam buku Rapporto Sulla Fede, yang berisi wawancara wartawan Italia Vittorio Messori dengan Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) soal rahasia ketiga dari pesan Bunda Maria di Fatimah kepada tiga anak , Sang Kardinal mengatakan:

“Karena, menurut pertimbangan para Paus, isi rahasia tersebut sama sekali tidak menambah sesuatu yang baru bagi pewahyuan Kristen. Isi rahasia tersebut berupa seruan radikal kepada pertobatan, kesulitan berat dari sejarah, bahaya-bahaya yang mengancam iman dan hidup orang Kristen, dan juga kemudian bagi dunia. Jika tidak atau belum dipublikasikan, paling tidak untuk sementara waktu, semata-mata untuk menghindari orang beriman melihat secara membingungkan kenabian religius sebagai hal yang sensasional…”

Rahasia ketiga dari penampakan tersebut merupakan yang paling ditunggu banyak pihak. Keterpikatan tersebut hanya bertolak dari perasaan ingin tahu, dan cenderung melupakan latar belakang religius dari penampakan tersebut. Peralihan zaman telah menggeser persepsi manusia tentang arti kenabian. Dalam arti yang paling sempit, kenabian itu menjadi sekedar informasi tentang nasib duniawi dan bukan surgawi.

Materialisme telah mengubah kultur religius manusia menjadi sangat duniawi. Kiblat kerohanian yang sejak awal diharapkan lahir dari persemaian keluarga, telah bergeser pada isu relativisme. Pada sejarah keselamatan bangsa Israel, Musa mengukuhkan kenabiannya melalui tiang awan dan tiang api. Tanda-tanda duniawi tersebut tidak pernah dibaca secara harafiah. Tiang awan dan api tersebut hanya merupakan figurasi material dari iman akan keselamatan. Musalah tongkat di tangan Yahwe.

Imanensi yang berkulturasi pada materialisme yang humanis dan rohaniah berpuncak pada peristiwa inkarnasi Allah. Semua benda dalam jagat seolah-olah terserap dalam imanensi tersebut. Tanda-tanda kemahabesaran dalam jagat semesta itu seperti tidak berdaya, karena imanensi puncak tersebut menjelaskan secara sempurna awal dan akhir kehidupan. Tidak ada lagi pemberitaan yang sifatnya spekulatif. Semua pemberitaan dari Abraham, Ishak, Yakub, hingga Musa berakhir pada inkarnasi tersebut.

Namun, jauh sesudah pemakluman inkarnasi itu, manusia kembali terjebak pada arus formalisme yang material. Sesuatu yang imaterial, bahkan kerohanian sifatnya disisipkan sebagai pepesan. Kepentingan dan status quo lebih mendominasi daripada kerelaan untuk berbagi. Formalisme yang berujung pada materialisme absolut menisbikan religiositas menjadi berita sensasional. Karena segala sesuatu mesti dinyatakan dalam bentuk pada ruang dan waktu, dan bukan bersandar pada harapan yang belum pasti. Yang berharga adalah in factum, aktualitas, bukan post factum dan yang eskatologis.

Paus Yohanes Paulus II, dari sebelumnya Paus Pius IX dan berkelanjutan pada Paus Benedictus XVI saat ini, menyadari pentingnya menyampaikan informasi secara humanis, berkulturasi, dan beretika. Informasi tidak boleh berguguran seperti daun rontok, atau pada layang-layang yang menggantungkan panorama ketinggiannya pada ke mana arah angin. Bersamaan dengan itu, pandangan dunia yang lebih humanis dan kosmologis kembali memayungi cara dunia beraksi. Karena itu, informasi membutuhkan tubuh yang lebih terdidik, dan menjadi sarana penyampaian kabar gembira dan pewahyuan.

Gereja dan dunia berada dalam relasi yang unik. Gereja membutuhkan informasi untuk mendaratkan konsep teologisnya secara aktual. Liturgi inkulturasi di Gereja Asia-Afrika atau teologi pembebasan Amerika Latin merupakan contoh konkrit arus kuat desakan informasi. Sementara itu, dunia membutuhkan teologi sebagai langit pemikiran dan tubuh untuk aspek teleologis. Informasi tidak bisa lepas meluruh hanya sebagai informasi. Pada saat manusia membutuhkan pencernaan yang lebih matang, teologi merupakan cakrawala pandang yang memberikan etika penilaian. Model informasi yang terserap sudah merupakan hasil dari pencernaan lanjut di perut teologi.

Dalam relasi tersebut, menimbang Sang Guru pun tidak pernah mengabaikan kewajibannya pada dunia dan negara berilah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi haknya pula, Gereja pun mestinya selalu peka terhadap tulisan, berita, dan informasi soal dunia. Dalam kepekaan tersebut, Gereja pun turut mengubah perwajahan dan pewartaannya menjadi lebih mendunia. Artinya, pertobatan tidak hanya sekedar monopoli ruang pengakuan. Inkarnasi hanya sebatas perayaan 25 Desember. Pertobatan mesti melampaui jeruji pengakuan dan menembus arti sempit yang semata-mata kultis. Pertobatan juga tidak sekedar mengakui dosa, tetapi juga mengakui keterbatasan cara pandang dan aksi. Karena itu, Gereja mesti tetap belajar, menjadi murid dari kesebelasan rasul menuju pada keterbukaan cara pandang yang baru.(*)



Rabu, 26 Maret 2008

Mengembalikan Kemahakuasaan Tuhan


Beberapa waktu lalu, di Parung, Bogor sejumlah orang mengusir aktivitas perayaan paskah umat kristiani. Sebuah pertanyaan muncul di benak ketika menyaksikan pemeluk agama yang satu mengadili pemeluk agama lainnya di tanah air ini: Apakah di dunia ilahi, para Tuhan pun saling bertarung? Mungkinkah Tuhan berpikir untuk membumihanguskan pemeluk agama lain? Dan apakah Tuhan itu jamak?

Kesesatan Tuhan, agama, atau pemeluk

Sangat boleh jadi kemahakuasaan Tuhan itu ditafsirkan secara keliru dengan kemutlakan. Kemutlakan selalu berarti persis benar. Berarti pula, baik adanya. Karena itu, kemutlakan menandakan sebuah tatanan yang selalu benar. Ketika satu unsur sesat, kemutlakan itu serta merta runtuh. Ini terlalu riskan untuk arti kemahakuasaan Tuhan. Karena, pada saat kemutlakan itu gugur oleh sebuah kesesatan, kemahakuasaan Tuhan pun mengerut. Tuhan bisa saja dipersalahkan.

Kalau Tuhan salah, Ia tidak bisa dikatakan maha tahu. Tahu segalanya. Baik di masa lampau, masa kini, maupun masa depan. Dengan kecacatan seperti ini, bisa saja rencananya yang selalu “baik adanya” itu salah. Karena peluang kesesatan dari kemahakuasaan Tuhan itu bisa hadir sesewaktu. Tatatan dunia yang sempurna di bawah providentia ilahi pun patut dipertanyakan. Kekeliruan atas penciptaan dan penyelenggaraan ilahi bisa mengakibatkan dunia berjalan timpang. Menuju sebuah kesesatan.

Klaim antara yang sesat dan yang benar, antara yang jahat dan suci dari pemeluk agama seolah-olah membenarkan kesesatan Tuhan ini. Bahwa ada sebagian warga masyarakat di bumi nusantara ini yang berpihak pada Tuhan yang sesat dan sebagiannya lagi pada Tuhan yang suci. Dan seruan untuk memerangi para pemeluk dari Tuhan yang jahat itu seolah-olah datang dari perintah Tuhan yang suci.

Para Tuhan pun berperang. Lalu apakah pantas kalau Tuhan itu masih disebut Esa? Juga maha baik? Karena Tuhan yang suka berperang, menjatuhkan hukuman atas bangsa, suku bangsa, atau manusia justru mencurangi nilai holistik kemanusiaan.Tuhan lantas menjadi sangat kuno, rigoristik, banal, melegalkan segala cara termasuk sampai harus bersimbah darah. Dengan cara seperti ini justru Dia sendiri menurunkan derajat kemahakuasaannya. Mengakui keberadaan Tuhan-Tuhan lain. Alih-alih, menanggalkan atribut kemahabaikannya.

Whitehead, dalam filsafat prosesnya menggambarkan Tuhan itu selalu menjadi dan ikut berproses. Proses itu ditandai dengan daya mencintainya yang tiada terbatas. Sebegitu mencintainya Tuhan atas dunia dan segala isinya, Dia rela memberikan tempat di balik kemahakuasaannya itu untuk yang dicintainya. Dan oleh cintanya itu pula, Dia menarik diri sedemikian rupa sehingga manusia dan segala ciptaannya bisa bergerak secara bebas, sesuai dengan hati nuraninya. Dia seumpama sebuah kapal, dari sebuah awal keberangkatan menuju tujuan akhir, dan di atasnya manusia dan segala isinya bergerak seturut hati nuraninya. Dia sendiri mengikuti dinamika ombak dan cuaca. Ritme suka dan duka kehidupan manusia. Dia sepertinya luluh lantah di tengah bencana sekaligus memberikan harapan dan optimisme di tengah keluh kesah tak berdaya tersebut. Toh, Tuhan pun tidak pernah langsung mengadili manusia di tengah kehidupannya. Dengan serta merta menyatakan bahwa manusia itu sesat dalam perilaku dan tutur katanya. Dengan setia, Dia menunggu di sebuah akhir.

Karena itu, sangat tidak mungkin menafsir secara benar eksistensi Tuhan dengan menggunakan akal pikiran manusia. Pikiran yang terbatas justru membelenggu Tuhan hanya pada halaman-halaman kitab suci. Agama dan kitab suci hanya merupakan isu kecil di jagad semesta yang maha luas. Agama dengan satu perspektif belum cukup untuk menilai seberapa adil, bijak, baik, suci untuk sebuah dunia dengan tatanan yang luas ini. Perlu ada sinergi, seberapa jauh kita merangkum keberagaman dan universalitas. Karena itu, egoisme, fundamentalisme, konservatisme hanya akan membuat kita kesulitan menilai dunia, orang lain, dan diri sendiri. Malah akan tercebak dalam penghayatan agama yang salah kaprah. Bukan agama dan Tuhannya yang sesat, tetapi kita salah menilai dan menafsirkannya.

Mengembalikan kemahakuasaan Tuhan

Sejenak Nietzche menjadi pahlawan manusia. Artikulasi kematian Tuhan sepertinya menjadi penyelesaian yang terbaik untuk membebaskan keterpasungan manusia. Di hadapan Tuhan, manusia tidak bisa berbuat banyak. Malah Tuhan menjadi penjara besar untuk gerak maju manusia. Dengan cara membunuh Tuhan, manusia bisa menjadi Tuhan. Atau Superman.

Membayangkan ketiadaan Tuhan di wilayah ciptaan Nietzche sama saja dengan menghadirkan perpecahan dan konflik. Kejahatan justru menjadi mutlak. Yang dapat dibayangkan adalah munculnya tuhan-tuhan baru, superman-superman baru dengan klaim kebenaran, wilayah, dan penganutnya masing-masing. Tidak ada rasa ketakutan, ketaatan, dan moralitas universal. Masing-masing berhak dengan segala macam cara mempertahankan kebenarannya. Tidak ada hukum. Tidak ada kekuasaan yang langgeng. Tidak ada kata hormat menghormati, toleransi, dan cinta damai. Karena itu, sangatlah mendasar kalau Tuhan itu dikatakan maha kuasa. Dia itu Esa. Tuhan tidak bisa jamak. Menyerahkan dunia dan penyelenggaraannya pada Tuhan yang jamak justru menghadirkan kekacauan dan konflik yang tiada habisnya.

Pada kenyataannya, keberagaman agama di nusantara ini tidak perlu dianggap sebagai saingan. Agama-agama tidak pernah mencari Tuhan lain selain Tuhan yang Esa itu. Tidak ada Tuhan stock baru. Munculnya aliran kepercayaan baru adalah bagian dari cara menafsirkan kemahakuasaan Tuhan yang Esa itu. Kemahakuasaannya yang sedemikian rupa itu tidak bisa dilembagakan dengan sebuah format baku dan siap pakai. Dia senantiasa berproses di kedalaman hati nurani manusia. Mengambil bagian secara personal dan kontekstual sesuai dengan hati nurani manusia. Tuhan itu selalu mengambil tempat yang nyaman di dalam hati manusia.

Mengadili sikap dan keberimanan manusia sama saja dengan mengadili kemahakuasaan Tuhan. Sesekali kita perlu bersikap adil terhadap Tuhan dengan cara mengembalikan kemahakuasaannya. Menetralkan kedudukan Tuhan dengan mengatakan Tuhan itu tidak pernah memiliki agama. Membebaskan klaim kepemilikan agama atas Tuhan. Biarlah Dia yang adil menilai perbuatan manusia. Kita hanya perlu bersikap toleransi atas keberagaman ini.(*)

Selasa, 25 Maret 2008

YESUS, TOKOH SENTRAL ITU MATI DI SALIB


Setelah perarakan meriah daun Palma dan Perjamuan Malam Terakhir, Yesus bergelut dengan penderitaan sampai wafat di Golgota. Tiga hari kemudian, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di Galilea. Sebelum akhirnya muncul lagi karena ketidakpercayaan Thomas.


Visualisasi Penderitaan Salib

Kisah penyaliban, seperti visualisasi Mel Gibson dalam ”Passion of the Christ” tidak lebih merupakan penggambaran dua realitas: antara kekejaman dan penderitaan. Sulit untuk menerima penganiayaan Yesus tersebut dalam batas nalar manusia. Bahwa ada ketubuhan sebentuk manusia Yesus bisa bertahan terhadap segala macam deraan itu. Sampai-sampai, Goenawan Mohamad, dalam salah satu tulisan ”catatan pinggir”-nya menyatakan ”kehilangan arti kemanusiaan dan makna ketubuhannya,” berhadapan dengan visualisasi Gibson tersebut.

Cara baca lain yang ditawarkan Gibson adalah memandang kemanusiaan dan ketubuhan Yesus melalui spektrum penderitaan dan usaha untuk mencapai tujuan. Bahwa manusia Yesus tidak punya pilihan lain, nampak dalam perenungan Taman Zaitun, selain harus meminum ”cawan” penderitaan. Bahwa penderitaan menjadi ongkos atas nilai ketubuhan dan kemanusiaan yang sedang dipertaruhkan. Dan salib merupakan konsistensi dari rencana besar yang sudah dirintis-Nya sejak dari Ia dilahirkan. Salib dan penderitaan memenangkan rencana keselamatan. Sehingga Yesus menjadi manusia “istimewa”, manusia “super”, yang melampaui kemanusiaan dan ketubuhan biasa.

Lain lagi kontroversi “The Last Temptation of Christ” yang dinahkodai Martin Scorsese, adaptasi dari novel karya Kazantzakis. Jelang wafat-Nya di salib, Yesus digodai untuk turun, menjalani kehidupan seperti orang Yahudi biasanya. Aras utama visualisasi ini terletak pada porsi “godaan”, seperti ketika Ia digodai di padang gurun, di taman getzemani untuk keluar dari porsi cawan penderitaan dan salib. Bahwa Ia bisa saja menyelamatkan manusia tanpa salib, karena Ia adalah Allah. Toh, sangat gampang turun dari salib, membatalkan prosesi penderitaan itu, karena Ia adalah Putera Allah. Namun akhirnya, Ia tetap berseru, “Eloi, Eloi Lamasabaktani”, dan kemudian wafat di salib.

Salib, kekuasaan, dan Kerekanan

Bersebelahan dengan cerita salib, dominasi kekuasaan birokratis Yahudi, kaum intelektual dan cerdik pandai, seperti Kaum Farisi dan Ahli Taurat mengambil bentuk citraan lain. Penyaliban dilihat secara politis sebagai bentuk hukuman atas “penjahat politik.” Kemenangan Kaum Farisi dan Ahli Taurat adalah kemenangan melobi, diplomasi, di balik kekuasaan yang sentralistik. Ketokohan Yesus sebagai penjaga moral dan pemimpin sejuta umat dilihat sebagai ancaman atas kemapanan, “kemakmuran” tokoh-tokoh kalangan atas. Selain sebagai “tumbal” yang harus dikorbankan demi kesenangan kolosalium masyarakat Yahudi.

Pasa sisi yang sama, Yesus pun selalu tergoda ke arah itu. Catatan “The Last Temptation” menggambarkan hal tersebut. Secara sentralistik, Yesus bisa saja meninggalkan salib dan menyelamatkan manusia melalui popularitas, kekuasaan, dan materi. Ia adalah Allah, segala sesuatu tidak ada yang mustahil. Kenapa harus dengan cara “salib”? Ini inti pertanyaan Martin Scorsese, atau boleh dibilang “godaan”.

Sementara pikiran para murid pun rupanya masih sejalan dengan “godaan” ini. Bahwa mereka betul-betul kebingungan, merasa salib hanya sebagai kekalahan seorang Allah, melecehkan misi kerasulan yang sudah dipikul bersama selama karya mereka. Salib adalah penghinaan total atas kenabian mereka. Mereka melihat Yesus sebagai tokoh sentral, yang tanpa-Nya misi keselamatan itu sepertinya menjadi sia-sia. Tidak ada yang bisa menggantikan peran Yesus. Apa mau dikata, Sang Tokoh Sentral itu sudah Mati di Salib!

Sudah selesai! Kata-kata ini sebenarnya ditujukan bukan hanya untuk mengakhiri perjalanan salib itu, tetapi terutama ditujukan pada para rasul dan gereja. “Ami ba’a, ge ata walong! “ kata bijak orang Maumere. Karena itu, kematian Yesus adalah upaya membuka pintu komunikasi yang luas terhadap misi keselamatan. Karena keselamatan bukan upaya yang sentralistik. Tidak bergantung pada satu tokoh, mengecilkan bahkan merendahkan peran sejuta umat. Yesus katakan, “Waktu-Nya sudah selesai”, kini yang ada adalah waktu gereja, para rasul dan sejuta umat. Secara terang, salib mencerminkan karakter keselamatan gereja. Yaitu, bertumpu pada komunikasi humanis, pada pandangan yang positif terhadap peran subjek. Bukan pada tokoh atau “dewa palsu”.

Cerminan Mel Gibson penuh dengan metafora keselamatan intersubjektif ini. Seorang Ibu digambarkan selalu membayangi penderitaan mahaberat Yesus. Yohanes sebagai tipe pengambil inisiatif reflektif, yang hanya bisa berkomunikasi melalui tatapan dan berada di sisi paling dekat dengan Sang Bunda. Seorang penjahat di salib bahkan lebih dulu mengerti tentang arti transformasi ketubuhan di balik nilai kerekanan dalam perjalanan penyaliban. Sementara Simon dari Kirene dengan tegas menyatakan keberpihakannya pada Yesus. Merangkul, menguatkan, bahkan memanggul salib Yesus, sambil seolah-olah mengatakan: “Yesus, Golgota sebentar lagi sampai, tinggal sedikit lagi, mari, kita bergegas ke Golgota. Saya bantu.”

Penderitaan sebagai jalan terjal kehidupan terlalu melelahkan untuk ketubuhan manusia. Bahkan Yesus pun tidak mampu menampung keluh kesah-Nya dan bersandar pada kebundaan Maria. Bunda sendiri tidak mampu menampung pilu tangisnya, kemudian memasrahkan kepiluannya pada sosok Yohanes. Sementara Simon, memandang salib sebagai bagian dari kesehariannya. Dari kebun berlelah, ia seharusnya mengambil waktu istirahat. Daripada berlelah membantu seorang tersalib. Pilihan itu tidak ia ambil. Ruang hidup sebagai petani memberikan pembelajaran semesta berarti, bahwa penderitaan, antara darah dan keringat adalah bagian dari proses menuju kemenangan. Ketubuhan yang fragil, yang rapuh tidak menjadi alasan bermalas, menyerah, dan mundur. Mengalahkan kebutuhan dan fragilitas kemudian melampaui penderitaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kemenangan. Simon pantas membantu Yesus. Karena ia maklum, manusia Yesus mesti mencapai kemenangan dengan melampaui ketubuhan itu.

Bagian terpenting dari penggalan ini adalah, ruang hidup keselamatan itu merupakan proses belajar bersama. Pada sebuah kerekanan, Yesus menunjukkan kerendahan hati untuk belajar dari kebijaksanaan Simon. Yesus tidak pernah memilih rekan-rekan belajar-Nya. Sama halnya juga ketika Ia memilih para rasul-Nya. Bagi Yesus, dalam proses belajar bersama dan komunikasi keselamatan, tidak ada “satu helai rambut pun yang lepas.” Itu berarti, setiap individu adalah tokoh, aktor dalam rencana keselamatan. Tidak ada tuan atau hamba, perempuan atau laki-laki, besar atau kecil. Semua unik, khas, dan berharga.

Pendekatan ini jelas berbeda dengan perspektif Kaum Farisi, Ahli Taurat, dan birokrat Yahudi. Keselamatan dan upaya kemakmuran itu dilihat secara sentralistik, sangat bergantung pada popularitas, kekuasaan, dan materi. Antara individu yang satu dan yang lainnya, tidak ada hubungan yang berarti, jika dan hanya jika individu itu menjadi subordinat dari hierarki kekuasaan yang dibangun. Koneksi komunikasi berlangsung secara liar dengan kecenderungan “makan dan dimakan”.

Kebangkitan: Kubur Kosong dan Galilea

Dari kaca mata para rasul, kebangkitan Yesus hanya dilihat sebatas kubur kosong. Lagi-lagi mereka kecewa. Kebangkitan-Nya itu tidak menyisakan ketubuhan, dalam bentuk yang bisa dilihat dan diraba. Cuma kubur kosong. Tetapi lantas, Ia memunculkan diri-Nya dalam tiga dimensi di Galilea. Pada perjalanan. Kemudian pada Thomas, si peragu itu.

Sia-sianya para murid sudah seharusnya dikuburkan pada kubur kosong. Pandangan yang optimistik seharusnya diarahkan ke Galilea. Pada kubur kosong, tidak ada kehidupan. Bahkan tanpa jenasah. Karena itu, kubur kosong tidak perlu dirayakan. Tidak pantas untuk dikenang. Atau dikunjungi. Kubur kosong sebaiknya dipandang sebagai ajakan untuk meninggalkan pesimisme, mudah menyerah, mengaku kalah, dan kegagalan. Yesus tidak bangkit untuk sebuah kubur kosong. Untuk sesuatu yang tidak ada isinya, tidak ada dinamika, dan ruang hidup. Karena itu, Yesus mengajak para rasul-Nya ke Galilea, ke pusat kehidupan yang sebenarnya, ke misi penjala manusia, dari kehidupan seorang petani, nelayan, pemungut cukai menuju aktor keselamatan. Karena itu, mesti disimpulkan bahwa kebangkitan Yesus itu ada di tengah kehidupan, dalam realitas nyata, dalam personifikasi “orang kecil” para rasul-Nya.

Dia sebagai penginisiatif dan dulunya adalah tokoh sentral, kini mengajak para rasul mengenang kembali kenabiannya sebagai aktor keselamatan di Galilea. Para rasul dan kehidupan di Galilea adalah tokoh sentralnya sekarang. Demikian pun peran gereja dan sejuta umat sekarang. Betapa rendah hatinya seorang Yesus, dan betapa mahakuasa Dia, sampai-sampai Ia rela mengecilkan diri-Nya untuk memberikan keleluasaan bagi para rasul, gereja, dan sejuta umat menjadi aktor dalam misi keselamatan tersebut. Karena itu pulalah, ketubuhan Yesus hanya bisa dilihat dan dirasakan di Galilea, pada kehidupan, pada partisipasi sejuta umat, “di mana dua tiga orang berkumpul, di situ Aku hadir”.

Sekali lagi, kebangkitan Yesus itu dirasakan setiap hari pada dimensi kehidupan manusia. Dalam sebuah perjalanan, proses, dinamika, dialog, ruang hidup. Ketidakpercayaan Thomas menjadi kerangka ketidakpercayaan dan ketidaksadaran kita pada kebangkitan Yesus dalam kehidupan nyata. Thomas masih memandang Yesus sebagai tokoh sentral dan mengharapkan transformasi ajaib dari kefanaannya menuju kemuliaan. Ia sendiri merendahkan dirinya, ruang hidup, dan dialog bersama rekan-rekannya. Ini bisa terjadi kalau refleksi atas penderitaan, dialog, kerekanan diabaikan, dipandang rendah, tidak ada nilainya. Kecuali oleh jamahan langsung Yesus. Kalau mata kita terbuka, sedikit mengecilkan diri kita seperti Yesus, membiarkan ruang hidup dan dialog kerekanan itu menguncupkan nilai dan spiritualitas, pada saat itulah kebangkitan itu menjadi nyata buat kita. Karena itu, mari menghargai ruang hidup, alam semesta, orang lain. Dan hiduplah dalam dialog selaras alam dan penuh kemanusiaan.(*)

Selasa, 18 Desember 2007

NATAL DAN HUT NTT

Dalam teologi Kristen, peristiwa kelahiran Yesus selalu dikaitkan dengan inkarnasi. Ada beberapa gagasan kunci yang bisa diperoleh dari makna inkarnasi tersebut. Di antaranya, Allah menjadi manusia, kabar gembira, kelahiran baru, rencana keselamatan, eskatologis. Peristiwa-peristiwa yang melingkari kelahiran Yesus pun bisa dijadikan parabel menarik. Mulai dari kabar gembira malaikat Gabriel, penyerahan diri Maria, tiga raja dari timur dan arogansi Herodes, sampai pada kisah pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Di sisi lain, bukan sebuah kebetulan gema Natal itu jatuh (selalu) dengan perayaan HUT NTT. Kalau demikian, sejauh mana makna perayaan Natal itu bisa disanding dengan perayaan HUT NTT yang ke-49 di tahun ini? Atau dapatkah gereja merayakan natal sekaligus HUT NTT?

Kelahiran Yesus dan gizi buruk
Boleh dibilang Yesus lahir pada sebuah situasi yang benar-benar darurat. Tidak terjadi di sebuah rumah sakit atau didampingi secara telaten oleh seorang bidan melahirkan. Ia dibaringkan di sebuah palungan. Bukan di atas kasur empuk. Sebuah situasi yang benar-benar terbatas, serba sulit, kalau tidak mau dikatakan miskin.

Namun siapa sangka, kelahiranNya itu mengawali sebuah pembabakan baru dalam sejarah. Bayi itu bahkan sudah disebut raja di usianya yang masih belia. Mengejutkan ahli taurat dan kaum farisi pada umur 14 tahun. Karena memiliki intelegensia yang luar biasa atas kitab suci dan tradisi yahudi. Menjadi seorang pemimpin rakyat yang disegani dan dihormati kawan maupun lawan. Kemudian menjadi inspirasi sejati untuk kaum kristiani, seorang penebus atau penyelamat.

Gambaran kelahiran dan sejarah ketokohan Yesus seperti itu pun (kelihatannya) menjadi kerangka apriori untuk semua orang tua di NTT. Harapan akan sebuah kelahiran, kehadiran anggota keluarga baru menandakan sebuah harapan di masa depan. Bahwa anak yang dilahirkan adalah generasi berikut. Yang mesti lebih baik dari nasib orang tuanya. Perlu ada peningkatan dan perubahan dalam hidup. Bila perlu tampil menjadi seorang pemimpin lokal. Yang memimpin sebuah perubahan bersama.
Yang terjadi justru masih sebaliknya. Nasib anak NTT tidak sebaik nasib bayi Yesus. Pertengahan tahun 2005, dari 477.829 balita di NTT, jumlah yang menderita gizi kurang adalah 85.604 anak balita, 12.925 menderita gizi buruk, 425 balita menderita marasmus dan meninggal adalah 35 orang yang tersebar pada 16 kabupaten/ kota. Berbagai upaya terus dilakukan ternyata pergeserannya juga masih belum terlalu jauh, seminggu yang lalu di awal Maret 2006 jumlah gizi buruk 13.000 dan yang meninggal sudah menjadi 52. Tahun 2005, tercatat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) berkisar 554/100.000 dibandingkan dengan AKI Nasional 307/100.000 (SDKI 2002-2003). Penyebab kematian terbesar adalah perdarahan (58%) yang dipicu oleh anemia yang dialami ibu selama masa kehamilan dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) 29%. BBLR terjadi karena pada masa kehamilan ibu mengalami kekurangan energi kronik (KEK). Atau secara singkat boleh dikatakan, ibu dan anak kekurangan gizi.

Tingkat pendidikan di NTT pun memprihatinkan. Angka drop out tinggi, mencapai 54 persen. Belum lagi pemenuhan hak anak dan kepentingan terbaiknya yang terus menerus diabaikan. Dalam kenyataannya, anak NTT sangat rentan dengan kekerasan, pelecehan seksual, perdagangan anak, dan dipaksa bekerja dengan beban yang tinggi.
Berbeda dengan Yesus, yang kelahirannya selalu diingat setiap tahun, kepentingan terbaik anak sepertinya dilupakan. Dikesampingkan. Ada sebuah gejala amnesia massal akan nasib terbaik anak. Yang pasti bahwa kasus-kasus kematian dan bencana yang terkait persoalan kemiskinan hanya membuat banyak orang terenyak sejenak, namun segera dilupakan tanpa sempat menciptakan perbaikan.Amnesia kolektif atas kasus-kasus kematian akibat kemiskinan, menjadikan kematian anak-anak miskin di NTT tak pernah dipandang sebagai tragedi. Baru dikatakan tragedi kalau terkait pelanggaran berat hak asasi, yang melibatkan penderitaan korban atau kematian massal dalam satuan waktu tertentu. Selebihnya tragedi terbatas pada pelanggaran oleh negara terhadap hak sipil politik dan mengabaikan pelanggaran berat hak asasi akibat ketidakadilan di wilayah ekonomi.
Dengan cara pandang seperti itu, nasib anak NTT yang menderita dan satu per satu meninggal, tak akan pernah dianggap signifikan untuk ditangani serius. Sebab dalam sistem ekonomi global sekarang ini, keberadaan dan penderitaan kaum miskin tak akan tampak. Mereka tersembunyi di gubuk-gubuk, di pelosok-pelosok pedesaan, dan di sudut-sudut kumuh, yang ruang hidupnya tak pernah terhitung dalam sistem ekonomi formal.
Seharusnya, semakin banyaknya kasus-kasus gizi buruk dan pelanggaran kepentingan terbaik anak yang merebak ke permukaan menjadi perhatian khusus pemerintah dan masyarakat, membangkitkan emosi kepedulian yang sangat tinggi. Bahwa ini tak sekadar kasus yang berujung pada kematian seorang anak, melainkan sebuah bencana yang perlahan-lahan yang menghabiskan generasi NTT di masa datang (low on disaster). Ini sebuah pelanggaran asasi manusia, karena hak-hak dasar masyarakat sebagai manusia telah diabaikan.
Kritik atas teologi
Pada tataran teologis, peristiwa kelahiran Yesus lebih merupakan sebuah peristiwa iman. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dimensinya sangat dalam dan mendasar. Menyentuh ke hakikat wahyu, jati diri ke-Allah-an, dan orientasi gereja. Pertama, wahyu atau logos itu kini berdaging, menempati ruang dan waktu, menjadi lebih nyata dan dapat dirasai kehadirannya. Inkarnasi membuat kata-kata itu menjadi lebih berisi. Bukan hanya sekedar sebuah literer, mimpi, imajinasi, tetapi merupakan sebuah praksis, tindakan nyata. Bukan sebuah hiburan, sekedar pidato, candu, melainkan sebuah kerja nyata. Wahyu itu kini berbudaya, berbahasa manusia, dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap kejadian hidup. Kontekstual. Tidak heran, kalau dalam pewartaanNya, Yesus lebih suka menggunakan perumpaan-perumpaan yang dekat dengan kehidupan para pendengarNya. Seperti, bulir, gandum, ikan, pohon ara, keledai, anggur, minyak zaitun, dll.
Kedua, inkarnasi mengubah jati diri Allah itu sendiri. Allah yang digambarkan sebagai Bapa yang penuh kuasa, yang berada di singgasana dengan kuasa yang luar biasa, menjatuhkan hukuman, melemparkan kutukan, berpihak pada sebuah bangsa atau suku, allah yang sangat patriarkat, kini bersalin menjadi Allah yang turun ke bumi. Dekat dengan manusia. Penuh kasih. Tidak berpihak. Penuh belas kasih dan maha mengampuni. Allah yang mencintai wanita, seperti peran Maria secara lebih mulia. Karena itu pula, dalam hidupNya yang singkat itu, Yesus begitu dekat dengan orang kecil, miskin, dekat dengan perempuan-perempuan, para pendosa, kaum disfabel, mereka dari golongan kelas kedua, yang sering dilupakan dan disisihkan dalam strata sosial kemasyarakatan.
Ketiga, gereja pertama dibentuk oleh wahyu dan janji keselamatan. Gereja dimulai dengan ziarah iman keluarga Abraham, bapa-bapa bangsa, kemudian berpuncak pada Yesus Kristus, para rasul, pengganti-penggantinya. Keselamatan yang dibawa bersifat already but not yet. Artinya, (seharusnya) sudah dirasakan dari sekarang melalui tanda-tanda yang menyelamatkan dan akan terpenuhi secara sempurna nanti (eskatologis). Kalau pada masa Abraham dan ziarah bapa-bapa bangsa, keselamatan itu terkesan legalistik, dengan asumsi-asumsi psikologis, perbedaan yang mencolok antara yang profan dan yang ilahi, badan dan roh, misi keselamatan di bawah terang peristiwa inkarnasi lebih humanis dan kontekstual. Menyentuh budaya setempat, dengan penghargaan yang tinggi pada harkat martabat manusia, kebebasan, keputusan, tanpa ada perbedaan yang mencolok antara yang jasmaniah dan yang rohaniah, tubuh dan roh. Dengan begitu, gereja lebih bergerak bebas untuk mengambil perannya di tengah masyarakat. Termasuk di dalamnya isu-isu krusial soal politik, ekonomi, HAM, kesehatan, dan sosial budaya. Gereja memandang semua itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari satu tubuh yang sama.
Kelihatan sekali ada perubahan yang luar biasa dari gerak turun Allah dalam peristiwa inkarnasi tersebut. Bahwa kitab suci (seolah-olah) sudah habis dibaca, wahyu itu sudah selesai dan sekarang saatnya kehidupan nyata itu berbicara, sesuai atau tidak sesuai dengan terang kitab suci. Bukan soal aspek legalitasnya lagi yang dipersoalkan melainkan kualitas kehidupan itu sendiri yang harus dipersoalkan. Sederhananya, apakah kualitas kehidupan masyarakat sekarang sudah sesuai dengan misi keselamatan Allah?
Berhadapan dengan berbagai masalah yang terjadi di NTT, perayaan natal sebenarnya merupakan sebuah otokritik untuk mayoritas masyarakat kristen NTT. Juga buat teologi kontekstual. Apa yang sudah dilakukan sebagai wujud nyata membangun wajah NTT menjadi lebih baik? Apakah gereja lebih memilih menjadi “penonton,” lebih banyak berbicara, berdiskusi, musyawarah tanpa ada hasil yang nyata? Bagaimana dengan SDM gereja? Seberapa signifikant gereja mengubah kualitas SDM NTT dan mengambil peran secara aktif dalam pembangunan di NTT? Atau gereja hanya menjadi “lawan” dari pemerintah dalam soal program pemberdayaan masyarakat?
Kita masih berharap pada peran gereja. Selamat Natal dan Bahagia NTT di usianya yang ke-49.(*)