Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Gereja Harus Bertobat

Segera di toko buku anda!

Penulis         : Alexander Yopi
Harga           : Rp 45.000
Penerbit       : Lamalera
Tgl Penerbitan : Juli 2011
Bahasa         : Indonesia
Halaman       : 158 hal
Ukuran         : 120x190 mm

K
endati melakukan banyak perbuatan besar dan mukjizat, Yesus tidak serta merta disebut Tuhan. Sebagian mengenal Yesus sebagai Yohanes Pembabtis, Elia, atau nabi-nabi terdahulu yang bangkit (bdk Luk 9:18-19). Orang farisi, ahli Taurat, dan pemerintahan Romawi malah menganggap Yesus sebagai penentang, pemberontak, dan penghujat tradisi Yahudi.

Hingga akhirnya Yesus wafat di salib, semua orang pun tidak serentak mengamini bahwa Yesus adalah Tuhan. Banyak yang menyesal bahkan ikut menyoraki Dia sebagai tokoh pembebas yang gagal. Sementara itu, para murid-Nya yang dekat dengan hidup dan karya-Nya tercerai berai dan kebingungan dengan nasib Sang Guru. Ada yang menyangkali Yesus, ada yang bunuh diri, dan ada yang bersembunyi tak tahu rimba.

Namun, berkat kehadiran Yesus yang melampaui ruang dan waktu, yang ditandai dengan kebangkitan lalu penampakkan, Dia telah menunjukkan betapa kehadiran-Nya selalu konsisten dari awal hingga kini. Iman dan keyakinan akan Sang Guru itu pelahan-lahan menjelma menjadi jawaban atas kehidupan, menjadi pintu gerbang menuju mukjizat dan perbuatan besar dalam kenyataan. Lantas, Dia yang semula hanyalah manusia biasa, seperti karunia yang diperoleh Yohanes Pembabtis, Elia, atau nabi-nabi terdahulu kini disebut sebagai Tuhan oleh jumlah sebanyak pasir di laut dan bintang di langit.

Kepenuhan janji itu sudah nyata dalam diri Yesus. Tuhan kini telah menjamah manusia menurut arti kedagingan dan kemanusiaan melalui peristiwa inkarnasi. Ternyata, Tuhan itu begitu dekat, hidup dalam, bersama, dan menjadi manusia. Dia memahami diri-Nya dalam cawan manusia untuk berkomunikasi seturut dinamika ciptaan-Nya dan menyakinkan diri-Nya sendiri bahwa kerinduan terbesar ciptaan-Nya adalah berada dalam Rumah Bapa.

Berkali-kali Tuhan ingin menguji kesetiaan manusia, ingin meyakinkan diri-Nya sendiri bahwa manusia sedang mencari diri-Nya. Ujian itu semula dititahkan melalui janji kepada Abraham, Ishak, Musa, Yakub, kemudian kepada bangsa Israel dan berpuncak pada Putera-Nya yang menjelma menjadi manusia. Keyakinan itu menjadi purna oleh kerinduan yang teramat sangat akan seruan Putera di salib: Eloi Eloi Lamasabaktani! Bapa tidak cukup hanya dengan mendengar keluh kesah Putera, “Biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu.” Hanya dengan “Allah Ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan Daku,” mata hati Bapa pun impas.

Manusia, sebentuk Putera di salib, pada ujian demi ujian, pada salib demi salib, keluh kesahnya hanya terarah pada kerinduan untuk kembali ke Tanah Terjanji yaitu Rumah Bapa.

Pada tahap tersebut, Bapa pun menjadi maklum. Bahwa pengakuan iman dan pencarian akan Tuhan tidak bisa dipaksakan, apalagi melalui hukuman serupa kutukan atau tulah. Bangsa Israel mengalami “kemurkaan Allah” karena Tuhan cemburu atas hati manusia yang seolah-olah mendua tersebut. Karena itu pula, Bangsa Israel dicintai-Nya melebihi bangsa-bangsa lain. Melalui Putera-Nya, Bapa menyimpulkan bahwa kembali ke Rumah Bapa membutuhkan sebuah proses. Bahwa Bapa akan membiarkan anak-anak-Nya memilih jalannya hingga akhirnya anak itu pun berseru “Eloi Eloi Lamasabaktani” seperti seruan kerinduan Putera-Nya kembali ke pangkuan Bapa.
***
WS Rendra, Si Buruk Merak itu, pernah melontarkan pujian kepada suku bangsa Flores. Dalam orasinya berjudul “Selamatkan Kekayaan Negara dengan Kedaulatan,” Rendra memuja Flores sebagai suku bangsa yang tidak pernah ditaklukkan di Tanah Air. “Begitu kuatnya budaya yang melasaki jiwa orang-orang Flores itu, sehingga mereka memiliki kedaulatan dalam dirinya sendiri,” kata Rendra. “Yang terjadi di Flores adalah perpaduan yang kental antara budaya lokal dan budaya modern, antara agama dan kepercayaan tradisional, antara bumi, air, api, dan manusianya.”

Demikian juga kehadiran para misionaris awal di bumi Flores. Betapa takjubnya mereka dengan kepercayaan agama alam yang sudah bertumbuh di Flores, sehingga pewartaan akan kabar gembira Kristus itu tidak perlu disampaikan dengan susah payah. “Mereka telah beriman,” sebelum mengenal Kristus. Bahwa Flores adalah gens naturaliter Christiana, sebuah bangsa yang secara alamiah bersifat Kristen. Mereka hanya perlu dijelaskan bahwa yang diimani sebagai sesuatu yang tidak dikenal itu adalah Kristus. Karena itu pulalah, agama Katolik mendapat tempat yang istimewa di hati masyarakat Flores.

Kendati secara alamiah sudah bersifat Kristen, Flores tetaplah gens candida sed ruda, sebuah bangsa yang suci namun terkebelakang. Selanjutnya karya keselamatan Kristus di bumi Flores itu hadir bersama upaya pencerdasan dan modernisasi. Kabar gembira tersebut tidak boleh berhenti hanya pada pembabtisan, tetapi perlu bekerja menjawabi tantangan zaman. Sebab kehidupan iman, yang bersandar pada sabda dan janji tidak bisa mengelak dari pemenuhan kebutuhan manusiawi.

Setelah Sang Guru mengajar dan ingin mengasingkan diri dengan perahu ke tempat sunyi, banyak orang malah mengikuti Dia. Hingga menjelang malam, orang banyak itu tidak juga beranjak pergi. Lalu, murid-murid Sang Guru meminta Dia untuk menyuruh banyak orang itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.

Namun, Sang Guru berkata lain, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Lalu para murid-Nya memberikan lima roti dan dua ikan kepada Dia, dan Dia pun memecahkan roti sehingga semua orang bisa makan.(bdk Matius 14:13-21)

Misionaris awal di Flores membesarkan iman umat melalui pendidikan, pertanian dan perkebunan, pertukangan, dan peternakan. Mereka sadar betul bahwa tantangan zaman, terutama bermuara pada persoalan keterbelakangan di satu sisi dan modernisasi di sisi lain akan menghimpit sabda Tuhan itu di sebuah tanah kersang. Alhasil, benih itu sebagian hanya akan jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di tengah semak duri, tanpa bisa berbuah banyak (bdk Mat 13:1-9). Karena itu, iman umat di Flores itu perlu terus didampingi dan dipupuk sehingga benih yang sudah ditaburkan tersebut tumbuh gemuk pada lahan yang subur.

Sama halnya dengan perbuatan besar Yesus memberi makan lima ribu orang supaya sabda Tuhan yang sudah diwartakan itu tumbuh subur dan berbuah banyak. Melalui pewartaan yang kontekstual tersebut, para misionaris awal di Flores memperoleh banyak tuaian. Gereja di Flores pada masa itu menjadi sangat berkarakter karena berwajah manusiawi dan berhasil membawa iman umat pada kemenangan salib. Iman para misionaris yang bersumber pada inkarnasi, pada gerak memahami tantangan zaman, pada kerelaan untuk dilahirkan kembali bersama cawan Flores akhirnya mengubah perwajahan iman masyarakat Flores secara kontekstual.
***
Kontekstualisasi selalu dalam arti aplikasi. Kontekstualisasi bergerak antara kondisi dan teks. Kontekstualisasi akan berhenti menjadi aplikatif jika teks tidak bisa menjawabi kondisi riil dan kondisi riil tidak mampu mengilhami teks berbicara. Karena itu, kontekstualisasi tidak bisa dibaca dan diterjemahkan sekali.

Upaya yang sudah dilakukan misionaris awal sebagai langkah menyuburkan iman umat sudah berjalan bertahun-tahun. Dalam daur waktu itu, tantangan zaman masyarakat dan umat di Flores pun berubah. Sayangnya, perubahan masyarakat dan umat di Flores saat ini justru dibalut dengan stigma kemiskinan. Telah lama Gereja hadir, bahkan makan dan minum dari bumi Flores sejak para misionaris awal memperkenalkan Kristus. Kendati demikian, Flores tidak pernah beranjak dari stigma kemiskinan. Apa yang Gereja lakukan sampai Flores tetap miskin?

Ketika misionaris awal membesarkan iman umat di Flores, mereka serentak memperkenalkan ilmu pengetahuan dan daya penerobosan budaya alternatif melalui pendidikan yang mengikuti arus zaman. Flores saat itu bahkan lebih intelektual ketimbang masyarakat pulau lain di daratan Indonesia. Pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan merupakan cara pandang Gereja memperbanyak dua ekor ikan dan lima ketul roti sehingga bisa memberi makan banyak orang. Gereja tanpa takut bersentuhan dengan dunia.

Di luar Flores, ilmu pengetahuan yang bermuara pada keterampilan dan spesialisasi saat ini berkembang dengan cepat. Pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan sudah bukan masalah tradisional. Berbagai pola industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi yang bertumpu pada manajemen dan jiwa wirausaha yang profesional mengubah pola mata pencaharian tradisional tersebut. Fisik dan olah alam bukan lagi tujuan utama. Fisik dan olah alam hanya merupakan pemicu untuk pengembangan sumber daya manusia. Sementara itu, pintu investasi dibuka supaya arus modal bisa menjalari aktivitas ekonomi. 

Gereja, masyarakat, dan umat di Flores justru tengah berhenti berproses. Pengetahuan, keterampilan, dan manajemen lama terus dipertahankan. Ketika daerah-daerah lain mulai merasakan buah dari mata rantai ekonomi akibat keterbukaannya pada perubahan cara pandang, pengetahuan, keterampilan, dan manajemen yang selaras zaman, Flores tetap pola lama. Tidak heran Flores pun ketinggalan. Iman dan denyut nadi kehidupan umat dan masyarakat pun berada di ambang krisis.

Kemiskinan hanya merupakan satu indikasi dari sekian banyak indikasi yang bakal muncul di Flores akibat kelesuan menghidupkan iman akan inkarnasi Kristus. Ketika agama sudah tidak aplikatif, tidak mampu memberikan lima ekor ikan dan dua ketul roti, iman akan yang ilahi itu kembali masuk dalam gua tak berpengharapan. Persis seperti kondisi para murid yang ditinggalkan Yesus karena mati dan dikuburkan. Rasa frustrasi, gamang, tak punya pegangan menyebabkan iman menjadi sangat kerdil dan rentan untuk dimobilisasi.

Gereja di Flores saat ini terlalu takut dan skeptis dengan segala perubahan yang sedang terjadi di luar. Ketakutan untuk menceburkan diri dalam dinamika dan aktualisasi dunia. Mengadopsi berbagai informasi dan perkembangan baru secara aplikatif. Sumber dari ketakutan itu adalah dikotomi yang tajam antara dunia dan kerajaan Allah. Dunia dan yang profan terlanjur terpasung dalam ideologi sumber dosa. Kelas dua. Materialistik. Jasmaniah. Kapitalistik. Tidak adil. Memiskinan. Mudah luntur dan tidak abadi. Terbalik dengan dunia ilahi. Kerajaan Allah. Yang sakral dan suci. Rohaniah. Bertahan lama. Abadi.

Sikap Gereja di Flores berbeda dengan Gereja universal lainnya yang hidup berdampingan dengan kemajuan zaman. Dikotomi yang dipelihara Gereja di Flores justru diimani Gereja di luar Flores sebagai sebuah tantangan untuk membumikan iman, menginkarnasikan karya keselamatan yang sudah dirintis Sang Guru. Ilmu pengetahuan, industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi bukan merupakan cara pandang yang bertentangan dengan hakikat Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan. Dengan menceburkan diri dalam kemajuan zaman itu, gereja sedang melakukan proses inkarnasi untuk secara kritis menawarkan dua ekor ikan dan lima ketul roti supaya bisa dimakan banyak orang.

Banyak dari kalangan Gereja, terutama para pastor sering berbicara soal investor dan keinginan untuk berinvestasi di Flores sebagai gerbang masuknya kapitalisme. Ketika gerbang itu dibuka, segera sesudah itu kapitalisme akan mencengkeram bumi Flores. Ketidakadilan, kemiskinan, tanah, mata pencaharian masyarakat akan direbut. Ketakutan demi ketakutan pun didaraskan sebagai penyejuk iman, yang sebenarnya lebih merupakan doktrinasi untuk anti terhadap perubahan.

Kemudian legitimasi atas doktrinasi itu dilengkapi dengan penghiburan bahwa "upahmu akan besar di surga." Proses industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi adalah semata-mata urusan duniawi, yang tidak abadi. Kemiskinan saat ini lalu dipandang sebagai takdir. Nanti Tuhan Tolong.

Ketika seorang karyawan pastoran atau pekerja di sebuah biara di Flores mendapat upah lebih kecil dari standar upah minimum nasional, Gereja mengklaim bahwa kekurangan dari upah itu merupakan cinta kasih. Bahwa Tuhan akan melihat kekurangan itu sebagai bagian yang akan dilunaskan-Nya sendiri di surga kelak. Namun dalam kenyataan, akibat upah yang kurang itu, lingkaran setan pun menjebak orang, keluarga, dan masyarakat dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Masyarakat dan umat sesungguhnya lapar setelah mendengarkan sabda Tuhan. Tetapi cinta kasih mengusir mereka untuk mencari makan sendiri. Gereja tidak mengindahkan perkataan Yesus, "Kamu harus memberi mereka makan."

Banyak keputusan pastoral Geraja yang diproduksi malah tidak mengindikasikan bahwa Gereja sedang menampilkan profil dirinya sebagai perpanjangtanganan Allah yang sedang berkomunikasi dengan cara yang teramat dekat dan personal. Banyak juga keputusan dan sikap gereja baik secara kolektif maupun personal tidak diproduksi secara matang didapur refleksi yang mengutamakan otokritik dan kritis. Gereja malah mengabaikan orang-orang yang teramat dekat dengan dirinya. Gereja malah membangun kembali Tahtanya yang arogan. Gereja malah mengutamakan dirinya sendiri.

Gereja mengalami kelesuan untuk melakukan otokritik dan kritik. Tidak hanya sekedar melemparkan suara keras seolah-olah suara keras itu mewakili sikap profetis. Gereja malah ikut terpelintir oleh godaan duniawi, memihak yang satu dan memaksa yang lain. Gereja terkotak-kotak dalam penolakan dan pro status quo. Tanpa mendalami lebih jauh substansi, esensi, dan eksistensi sikap penolakan dan pro status quo tersebut.

Ada sebuah proses yang berhenti. Gereja bertindak seolah-olah begitu memahami karya keselamatan Tuhan sehingga memaksa dan lupa berproses. Padahal, Bapa sendiri butuh proses yang panjang sebelum mengamini bahwa keselamatan itu berlangsung secara personal dalam pergumulan manusia dengan pilihannya. Hanya inkarnasi atau gerak menjadi manusia, Tuhan bisa memahami manusia yang seolah-olah berlari di hadapan-Nya. Tuhan sendiri pernah bertobat. Gereja pun harus bertobat.(*)

Selasa, 05 Oktober 2010

Resensi Film Darah Garuda: Biarkan Sayap Garuda itu Terbang

Sebuah pesawat terbang pada 1947, dua tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Marius (Darius Sinathrya), perwira geblengan Tentara Rakyat Indonesia dan jebolan sekolah Belanda itu menjadi pilotnya. Sementara itu, Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (T Rifnu Wikana), dan Senja (Rahayu Saraswati) adalah penumpangnya. Demikian cuplikan akhir cerita Darah Garuda, film kedua berdurasi 100 menit dari sekuel Merah Putih.

Pasukan penyusup yang terbang di bawah pimpinan Kapten Amir itu sebelumnya bertempur hidup mati demi meledakkan pangkalan udara milik Belanda di Jawa Barat. Keberanian meledakkan pangkalan udara itu adalah sebuah keharusan. Rencana penyerangan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia bakal sulit apabila pangkalan udara itu diledakkan.

Kendati kekuatan dan persenjataan yang sama sekali tidak seimbang, Kapten Amir bersama tiga perwira lainnya berhasil meledakkan pangkalan udara tersebut. Sebuah pesawat Belanda mereka curi. Pesawat itu akhirnya terbang bersama luka dan darah yang dibawa pergi. Tidak ada lagi sakit pedih perih. Kecuali rasa purna diri karena berhasil mempersembahkan kegigihan dan jati diri untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Darah prajurit perempuan laki beda agama itu adalah Darah Garuda. Pesawat yang melayang itu bak Garuda yang mengepakkan sayapnya. Lepas dari cengkeraman dan terbang sebagai makhluk bebas demi menentukan nasibnya sendiri. Kini, dunia tahu bahwa garuda itu telah merdeka walau luka mesti dibawa berlari.

Sulit untuk membumikan kembali semangat perjuangan kemerdekaan dan pascakemerdekaan kepada generasi saat ini. Semangat perjuangan itu kian lama kian terkikis dengan hanya menyisakan suara bisu Sang Proklamator, Soekarno dan Hatta pada setiap perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus. Penghormatan atas para pahlawan hanya sekedar lalu lalang manusia di Taman Makam Pahlawan. Selanjutnya, kisah kepahlawanan itu terbawa oleh berita penggusuran rumah para purnawirawan, janda pahlawan, atau getir pahitnya kehidupan mantan pejuang di sebuah perkampungan kumuh.

Darah Garuda yang disutradarai Yadi Sugandi dan Conor Alyyn merupakan karya cetusan hati seorang Hashim Djojohadikusumo. Berkat polesan dua sutradara kondang tersebut, cetusan hati Hashim itu berhasil keluar dari penghormatan kepada para pahlawan yang berbau kultis, tahunan, atau bahkan hiperbola.

Kisah heroik dan kolosal sengaja ditinggalkan. Yang ditekankan dari cetusan hati Hashim itu adalah ziarah bangsa. Bahwa perjuangan yang sesungguhnya bukan terletak pada pengkultusan, perayaan tahunan, dan gambaran hiperbola. Penghormatan pada para pahlawan justru terletak pada upaya menerbangkan Garuda berpenumpang perempuan laki beda agama, suku, mata pencaharian, tingkat perekonomian, kecerdasan, dan latar belakang keluarga.

Cetusan hati Hashim lebih tepat disebut pemintalan perjuangan kemerdekaan dan pascakemerdekaan menjadi satu benang merah dengan perjuangan riil bangsa saat ini. Belanda sudah diusir. Tetapi perjuangan dan semangat untuk melepaskan Garuda dari cengkraman keterjajahan tidak boleh padam. Ziarah bangsa ialah medan tempur baru. Karena banyak air mata dan darah yang sudah tumpah karena ziarah bangsa ini tidak pernah luput dari pertempuran akibat beda genital perempuan laki, beda suku, agama, ras, mata pencaharian, tingkat perekonomian, kecerdasan, dan latar belakang keluarga.

Seharusnya Senja dan Surono (Zumi Zola) membenci negeri ini karena negeri ini membantai keluarganya karena berdarah Belanda. Namun, Senja dan Surono mampu melewati konflik pribadi itu dan bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Surono bahkan mati di depan pertempuran, sedangkan Senja menjadi satu-satunya perempuan di antara empat perwira yang menggempur pangkalan udara Belanda.

Tomas si petani, asal dari Sulawesi. Berbeda dengan Marius dari keluarga Jawa berada. Keduanya memang selalu bersitegang, susah untuk diajak kompromi. Latar belakang keduanya terlampau keras dan sensitif untuk diajak bekerja sama dalam tim. Namun, ketegangan itu tidak lantas menyebabkan Tomas memilih berpisah dari Republik untuk mendirikan negara sendiri. Sementara itu, Marius pada akhirnya maklum bahwa Indonesia itu bukan saja Jawa. Setiap perbedaan mengandung kekuatan apabila perbedaan itu dihargai sesuai karakternya tanpa memandang suku, agama, ras, latar belakang pendidikan dan keluarga.

Dayan dari Bali, seorang Budha. Dayan membisu selamanya karena penganiayaan dirinya di kamp Belanda. Dia sepertinya memilih jalan keyakinannya untuk memuji dan memuliakan negara ini dalam kesunyian, tanpa suara. Tidak banyak bicara, malah lebih banyak diam dalam melakukan perbuatan terpuji.

Sementara itu, Amir sang pemimpin adalah muslim. Dia tampil sebagai muslim yang saleh, juga sebagai pemimpin yang bijaksana. Amir menembus batas-batas perbedaan itu dan melihat perbedaan itu sesuai karakter. Amir seorang negosiator, mampu menyatukan perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan yang membangkitkan dan memerdekakan. Dia menjadi roh dari Garuda yang terbang, dari Republik yang lepas dari cengkraman Belanda, dari Indonesia yang berziarah menentukan nasib sendiri.

Di tengah perbedaan suku, agama, ras, mata pencaharian, tingkat perekonomian, kecerdasan, dan keluarga yang terus disulut dan dibakar, Darah Garuda adalah sebuah kritik. Ziarah bangsa dalam mengisi kemerdekaan sebagai penghormatan kepada para pahlawan saat ini masih dimiskinkan dengan keterjajahan akibat perang antarsuku, agama, ras, mata pencaharian, tingkat perekonomian, kecerdasan, dan latar belakang keluarga. Perang itu tidak mempunyai tujuan yang jelas, kecuali memenjarakan kembali bangsa ini pada visi yang kerdil. Perang itu hanya meluluhlantahkan kekuatan yang tersembunyi dari perbedaan tersebut. Perang tersebut menyebabkan sayap Garuda tidak bisa terbang lebih tinggi.

Sersan Yanto (Ario Bayu) telah menunjukkan bahwa pilihan mengkhianati perjuangan bangsa justru berakhir bumerang. Betapa lelahnya sayap Garuda ini terbang dengan diikat oleh berbagai perbedaan yang terus dibakar. Bumerang itu akan datang, tatkala sayap Garuda itu akhirnya patah karena kelebihan beban oleh ongkos menyeberangi jurang perbedaan yang makin terjal. Lalu, harus berapa banyak lagi Darah Garuda yang ditumpahkan untuk meyakinkan bahwa sayap itu perlu bebas dari pengkotak-kotakan tersebut?

“Darah Garuda akan memberikan gambaran perjuangan generasi muda dalam kemerdekaan pada waktu itu. Berbagai ras dan agama semuanya berjuang dengan satu tujuan yang mulia yaitu kemerdekaan Indonesia. Mereka semua berjuang tanpa pamrih, tidak untuk materi atau harta,” ujar Hashim Djojohadikusumo sebagai produser eksekutif dalam acara perilisan trailer Darah Garuda di Lounge Plaza Senayan XXI, Jakarta (15/06).

Kalau boleh, biarkan sayap Garuda itu terbang bebas, melalui kepuasan yang purna akibat perjuangan meretas perbedaan demi kebaikan bersama. Inilah yang patut diteladani dari lima orang beda jenis kelamin, suku, agama, ras, mata pencaharian, ekonomi, pendidikan, dan keluarga yang terbang pada 1947.(*)

Jumat, 03 September 2010

Jangan Ceburkan Harmonika Beta!

Harmonika yang tercebur ke sungai menjadi puncak kemarahan Merry (Griffit Patricia) atas kenakalan Carlo (Yehuda Rumbini). Alat musik tiup itu menjadi melodi kedekatan Merry terhadap kakak tersayangnya Mauro (Marcel Raymond) yang sudah terpisah dalam rimba tak tentu. Tidak ada lagi harmonika yang menjadi jembatan kerinduan Merry atas Mauro. Carlo pantas dibenci karena memutuskan jembatan kerinduan Merry atas kakaknya Mauro.
Peristiwa revolusi kemerdekaan tanah Timor Timur atau yang lebih dikenal sebagai Timor Leste yang resmi memisahkan diri dari bumi pertiwi menyebabkan keluarga bahagia Tatiana (Alexandra Gottardo) tercerai berai. Sesungguhnya Tatiana, Merry, dan Mauro tidak pernah memilih menjadi pengungsian. Predikat itu dengan serta merta melekat pada diri keluarga itu setelah mereka memilih setia pada Indonesia. Ironis memang, karena sebelumnya mereka adalah warga negara Indonesia, hidup nyaman dan bahagia. Namun, ketika mereka kembali menegaskan dirinya sebagai warga negara Indonesia, memilih setiap pada Pancasila dan Merah Putih, mereka menjadi pengungsi di tanah airnya sendiri.  
Nasib Carlo sebenarnya tidak lebih tragis dari kehidupan Tatiana, Merry, dan Mauro. Kalau Merry masih memiliki Tatiana dan Mauro, Carlo adalah sebatang kara. Ayahnya mati dalam perang revolusi, sedangkan ibunya meninggal oleh minimnya perhatian dan kepedulian bangsa ini terhadap nasib saudara seatapnya sendiri. Hidup di bawah standar kesehatan, miskin pendidikan, miskin sandang, pangan, dan papan adalah gambaran dari ongkos yang mesti diterima mereka yang memilih setia pada negara itu di barak pengungsian. Bahkan untuk sebuah cita-cita pun, Carlo tidak sanggup menyebutkan jati dirinya di masa depan karena tenggelam dalam depresi luar biasa atas nasib sebatang kara dirinya itu. “Saya punya cita-cita hanya mau supaya saya berkumpul dengan bapa dan mama,” ujar Carlo.
Film Tanah Air Beta garapan sutradara Ari Sihasale sekurang-kurangnya sedang mengurai dua harmonika yang tercerai berai. Tidak ada lagi lagu Tanah Air Beta. Tidak pula untuk Kasih Ibu. Harmonika itu telah tercebur, karena kecintaan para pengungsi diperbatasan itu tengah dikianati oleh saudara sebangsanya sendiri, bahkan oleh negaranya sendiri. Mereka memilih tetap tinggal di rumahnya Indonesia sebagai Tanah Air Beta, tetapi Indonesia malah memberi mereka identitas baru sebagai pengungsi.
Pilihan untuk kembali ke Indonesia menyebabkan Ayah, Ibu, dan anak-anaknya tercerai berai. Kebahagiaan sebagai satu keluarga serta merta dicabut dan dicabik-cabik. Ayah mencari ibu dan ibu mencari anak-anaknya. Sementara itu, Merry, Mauro, dan Carlo kehilangan masa ditimang dan dipeluk kedua orang tuanya, kehilangan pengalaman eksistensialnya sebagai kuncup yang baru tumbuh yang seyogyanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Demikian nyanyian Kasih Ibu tidak lagi harmonis, bahkan sulit untuk diperdengungkan karena harmonika itu telah tercebur.
Benar bahwa Ari Sihasale tidak berani mengeksplorasi terlalu jauh soal tragis dan pahitnya memilih pulang ke Indonesia sebagai Tanah Air Beta, ketimbang berdiam di Timor Lorosae. Atau, adakah kekecewaan para pengungsi itu memilih pulang ke Indonesia tetapi toh menjadi pengungsi. Benar bahwa film ini seolah cerita pendek yang tidak cukup durasi, dengan cerita yang mudah habis dan sederhana. Seperti sebuah dokumenter, laporan apa adanya yang diberi sinopsis.
Tetapi tindakan Ari Sihasale tersebut sangat humanis. Penceritaan ulang atas nasib tragis dan pahitnya sebuah pengalaman manusia bisa berubah menjadi penghakiman kedua yang memosisikan tokoh dari cerita yang diangkat itu sebagai korban. Penggal kisah terkait pengalaman pahit dan getir manusia yang diceritakan ulang sifatnya mesti membebaskan dan jangan sampai didramatisir sehingga mereka yang berada dalam kisah itu kembali merasa kecewa, dikhianati, rendah diri, dan menyerah dalam hidup. Karena alasan itulah, Ari Sahasale lebih memilih ‘mudah habis’ dan ‘sederhana’ ketimbang mesti harus memberi tangis dan darah kesekian kalinya pada para pengungsi.    
Tujuan Ari Sahasale adalah, Merry mesti mendapatkan kembali harmonika yang sudah tercebur. Tanah Air Beta mesti dinyanyikan dengan harmonika yang indah, penuh kebanggaan. Sementara itu, Kasih Ibu menjadi melodi kasih dari bahagianya sebuah keluarga dengan kelahiran baru setelah khaos.
Kalau Carlo, dalam tragis dan keterbatasannya bisa menghadirkan kembali harmonika Merry, menemani dan membebaskan Merry dari kedukaan dan nasib tragisnya dengan melupakan diri sendiri, mengapa bangsa ini tidak bisa berlaku yang sama? Kalau Carlo dengan sepenuh hati menyanyikan Kasih Ibu untuk perjumpaan Merry dan Mauro, selanjutnya membebaskan Tatiana dari rasa bersalah sebagai ibu, mengapa bangsa ini tidak demikian?
Carlo sebenarnya tidak mengharapkan apa-apa dari keikhlasannya menemani Merry, kecuali untuk mengembalikan harmonika yang sudah tercebur. Tetapi yang diperoleh Carlo dari Merry adalah baju baru, dari celengan Merry. Sebuah celengan dari kamp pengungsian dan baju yang sudah disudah dipersiapkan Merry sebagai hadiah terindah untuk kakak tersayang.
Pemberian diri Carlo dibalas Merry dengan kerelaan untuk memberi identitas baru pada Carlo. Secara tidak langsung Merry ingin mengatakan, “Carlo, kau juga orang yang saya kasihi sama seperti saya mengasihi kakak saya Mauro. Kenakan baju baru ini dan kau menjadi kakak saya juga.” Carlo tidak sebatang kara lagi. Dia sudah menemukan keluarga barunya. Harmonika yang tercebur itu kini ditemukan kembali.(*)
  

Minggu, 12 April 2009

Yang Mencurigakan Dari Memoar Sintong

SESUNGGUHNYA Letjen TNI (purn) Prabowo Subianto adalah pelaku utama memoar Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Buku setebal 520 halaman yang ditulis Hendro Subroto tersebut mengawali dan mengakhiri kisahnya dengan peristiwa Mei 1998. Prabowo menjadi ‘terdakwa’ dalam dua hal, yaitu actor intellectual dari rencana coup dan dalang penculikan sejumlah mahasiswa.

Sayangnya, versi Prabowo tidak pernah muncul dalam buku tersebut. Prabowo tidak pernah diberi kapasitas membela diri, layaknya seorang terdakwa dalam sebuah persidangan. Padahal, buku adalah sidang pembaca. Penulis dan pencerita dalam buku bahkan tidak lagi berhak memiliki kisah tersebut, ketika sebuah buku sudah dilempar ke pasaran publik. Hanya publik yang layak menilai. Ketiadaan versi Prabowo dalam penceritaan yang tendensius tersebut telah membunuh karakter seorang Prabowo.

Kisah Sintong nyaris tenggelam justru karena kehadiran bab 1 dan bab 13 dalam buku tersebut. Ketokohan Sintong malah hanya menjadi jembatan untuk mengisahkan Prabowo, mantan-mantan murid lainnya di Baret Merah, dan sepak terjangnya. Penempatan kisah Prabowo pada awal dan akhir buku itu dengan jenius mampu memanipulasi kesan dan pesan. Pembaca sengaja diingatkan dua kali, pada saat memasuki gerbang memoar itu dan ketika hendak meninggalkan sidang pembacaan kitab tersebut. Sintong, dalam hal ini, adalah pembaca peringatan itu.

Tautan kisah dalam memoar tersebut pun patut dicurigai. Cerita G30S/PKI yang disebut Sintong sebagai ‘pemberontakan’ dan bukan ‘peristiwa’ merupakan premis, alias gerbang masuk untuk mendakwa Prabowo. Sintong menyebut counter coup d’ etat yang dilakukan Prabowo dalam peristiwa Maret 1993 terhadap LB Moerdani adalah rekayasa yang mirip Letkol Untung. Selanjutnya, Prabowo dalam beberapa kali pencitraan disebut ‘sedang stres berat.’

Pencitraan tersebut menyebabkan kapasitas ketentaraan dan intelegensia Prabowo sebagai seorang terdidik dan pemimpin setaraf wakil komandan Detasemen 81/Antiteror sedang diremehkan pada titik terendah. Namun, sangat tidak masuk akal kalau Sintong selalu menyebut Den 81/Antiteror adalah pasukan terbaik dari yang terbaik, atau terpilih dari anggota Koppassandha terbaik. Sintong bahkan menyebutkan Den 81/Antiteror merupakan piramida puncak dari pasukan inti Koppassandha dan ABRI. Luhut Pandjaitan dan Prabowo, sekalipun yang satu komandan dan yang lainnnya wakil, adalah pemimpin dari pasukan terbaik dari yang terbaik. Sintong sedang menyangkal Den 81/Antiteror yang dibidaninya sebagai satuan yang terbaik dari yang terbaik.

Sintong hanya ‘merasa’ hormat kepada beberapa seniornya seperti Ijon Jambi, Slamet Riyadi, Alex Kawilarang dan kemudian kepada Widjojo Soejono dan LB Moerdani. Dia juga mengatakan Prabowo, Luhut, AM Hendropriyono, Agum Gumelar, Sutiyoso, Syafrie Sjamsoeddin, Tarub, Muchdi Pr sebagai anak didiknya di warga baret merah. Berbeda dengan Prabowo yang disebut sedang stress berat, melalui mulut LB Moerdani, Try Sutrisno, Rudini, maupun Edi Sudradjat, Sintong memuji Luhut sebagai perwira terbaik di angkatan darat.

Namun, Sintong salah menilai kebangsawanan Almarhum Mantan Presiden RI Soeharto dengan mengusulkan status daerah istimewa untuk Timor Timur. Merasa tepat sesuai konsep ‘bapak’, Sintong malah melangkahi LB Moerdani sebagai atasannya, yang sesuai hierarki seharusnya yang menyampaikan usulan tersebut. Usulan daerah istimewa tersebut lebih etis disampaikan Sintong pada LB Moerdani, dan kemudian Moerdani kepada Soeharto. Padahal, Sintong tahu dari Moerdani bahwa Soeharto perlu dibela mati-matian sampai kapanpun, karena beliau adalah seorang Pancasilais sejati. Ucapan tersebut diulang kembali Moerdani dalam rapat para perwira tinggi ABRI.

Dalam kedekatannya bersama BJ Habibie, Sintong juga pernah dibentak soal keputusan presiden pengganti Soeharto yang terus mengusulkan pemisahan jabatan Menteri Hankam dan Panglima ABRI. Dia mengusulkan Hendropriyono diangkat menjadi Panglima ABRI dan menteri Hankam diberikan pada Wiranto. “Pak Sintong, saya tidak mau seperti itu!” Akhirnya Sintong menyadari bahwa dirinya merupakan pembantu Presiden yang jangan sampai malah merecokinya. Baru kemudian Sintong menyadari pilihan Habibie tersebut berdasarkan pertimbangan pribadi yang menilai Wiranto sebagai sosok yang jujur, bermoral, beretika, serta setia pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Dalam usulannya kepada BJ Habibie soal pemisahan kekuasaan tersebut, Prabowo juga menyebut Wiranto pantas menjadi Menteri Hankam. Namun, Prabowo tidak sependapat dengan Sintong soal Hendropriyono sebagai Panglima ABRI. Dia malah mengusulkan Subagyo HS, dan Sintong menganggap usulan itu belum tentu kejelekan. Namun, Sintong justru yang berperan aktif dalam proses pergantian Prabowo dari Panglima Kostrad. Dia menginterpretasikan, pasukan yang berjejal di luar kediaman Presiden dan bersiaganya satuan Kostrad dari luar Jakarta ke Jakarta sebagai upaya coup yang hendak dilancarkan Prabowo. Karena itu, Prabowo pantas dilengserkan karena berbahaya. Padahal, Sintong sendiri mengakui Prabowo tidak mempunyai pengaruh di sebagian besar anggota ABRI, sehingga tidak ada gerakan penolakan pascapencopotan Prabowo. Namun, Prabowo tidak diadili oleh tuduhannya terhadap Moerdani yang akan melakukan coup terhadap Soeharto. Pasalnya, kedekatannya sebagai mantu presiden menyebabkan Prabowo kebal hukum.

Menurut Sintong, alangkah tidak masuk akal (sampai hari ini), mengapa sebagian besar pimpinan ABRI pada waktu itu berada di Malang, pada saat terjadi peristiwa liar Mei 1998. Padahal, Soeharto sudah mempercayakan masalah keamanan dan ketertiban kepada ABRI melalui Inpres No 16 Tahun 1998. Wiranto sebagai Panglima ABRI dan Subayo sebagai KSAD diminta membentuk Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Tidak ada Prabowo saat Inpres tersebut dikeluarkan.

Sementara itu, Sintong saat itu adalah penasihat bidang pertahanan keamanan wakil presiden Habibie. Dia mengusulkan agar Habibie mengeluarkan suatu pernyataan guna menenangkan masyarakat dan membentuk instruksi yang dianggap perlu. Soeharto masih di Kairo. Namun, Habibie tahu diri. Dia tidak mau mendahului Soeharto, dan bahwa langkah tersebut harus ada izin dari presiden. Sintong bahkan bertanya, mengapa harus ada izin dari presiden yang sedang berada di luar negeri?

Memoar Sintong ini sebenarnya merupakan kisah soal ‘kedekatan’, entah orang per orang atau kedekatan pada peristiwa. Dalam kedekatan tersebut, ada yang merasa sangat dekat, hingga yakin dan pasti tahu soal seluk beluk peristiwa dan isi kepala seseorang. Kedekatan itu pula yang menimbulkan perasaan gengsi, persaingan jabatan, dan sikut menyikut. Dalam kedekatan itu, persoalan etis tidak etis, loyal tidak loyal, hierarki menjadi sesuatu yang gamang.

Kalau Soeharto sudah merasa tidak percaya dengan ABRI, kepada siapa lagi dia mengadu untuk mempertahankan visi kebangsaan dan pancasilaisnya? Prabowo dengan pasukan di sekitar istana? Ini soal kedekatan sebagai mantu. Setelah Soeharto lengser, Prabowo pun dengan segala cara ikut dilengserkan. Bukan kebetulan, Sintong dekat dengan Prabowo dan Hendripriyono karena mantan murid. Tetapi, Sintong menjadi tidak dekat dengan Prabowo setelah karier anak didiknya itu melejit. Hendripriyono direkomendasi menjadi Panglima ABRI dan bukan Wiranto karena merasa dekat dengan Habibie. Lantas, Sintong melangkahi Moerdani soal daerah istimewa Timor Timur karena merasa sudah dekat dengan Soeharto. Sintong juga salah menilai Habibie soal Wiranto. Tetapi, Prabowo benar soal Wiranto. Itu artinya, intelegentia Prabowo justru lebih dekat daripada Sintong. Memang, yang mencurigakan dari memoar Sintong adalah tentara tidak boleh terjebak nepotisme.(*)

--------

pernah dimuat di Investor Daily, Maret 2009