Dalam teologi Kristen, peristiwa kelahiran Yesus selalu dikaitkan dengan inkarnasi. Ada beberapa gagasan kunci yang bisa diperoleh dari makna inkarnasi tersebut. Di antaranya, Allah menjadi manusia, kabar gembira, kelahiran baru, rencana keselamatan, eskatologis. Peristiwa-peristiwa yang melingkari kelahiran Yesus pun bisa dijadikan parabel menarik. Mulai dari kabar gembira malaikat Gabriel, penyerahan diri Maria, tiga raja dari timur dan arogansi Herodes, sampai pada kisah pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Di sisi lain, bukan sebuah kebetulan gema Natal itu jatuh (selalu) dengan perayaan HUT NTT. Kalau demikian, sejauh mana makna perayaan Natal itu bisa disanding dengan perayaan HUT NTT yang ke-49 di tahun ini? Atau dapatkah gereja merayakan natal sekaligus HUT NTT?
Kelahiran Yesus dan gizi buruk
Boleh dibilang Yesus lahir pada sebuah situasi yang benar-benar darurat. Tidak terjadi di sebuah rumah sakit atau didampingi secara telaten oleh seorang bidan melahirkan. Ia dibaringkan di sebuah palungan. Bukan di atas kasur empuk. Sebuah situasi yang benar-benar terbatas, serba sulit, kalau tidak mau dikatakan miskin.
Namun siapa sangka, kelahiranNya itu mengawali sebuah pembabakan baru dalam sejarah. Bayi itu bahkan sudah disebut raja di usianya yang masih belia. Mengejutkan ahli taurat dan kaum farisi pada umur 14 tahun. Karena memiliki intelegensia yang luar biasa atas kitab suci dan tradisi yahudi. Menjadi seorang pemimpin rakyat yang disegani dan dihormati kawan maupun lawan. Kemudian menjadi inspirasi sejati untuk kaum kristiani, seorang penebus atau penyelamat.
Gambaran kelahiran dan sejarah ketokohan Yesus seperti itu pun (kelihatannya) menjadi kerangka apriori untuk semua orang tua di NTT. Harapan akan sebuah kelahiran, kehadiran anggota keluarga baru menandakan sebuah harapan di masa depan. Bahwa anak yang dilahirkan adalah generasi berikut. Yang mesti lebih baik dari nasib orang tuanya. Perlu ada peningkatan dan perubahan dalam hidup. Bila perlu tampil menjadi seorang pemimpin lokal. Yang memimpin sebuah perubahan bersama.
Yang terjadi justru masih sebaliknya. Nasib anak NTT tidak sebaik nasib bayi Yesus. Pertengahan tahun 2005, dari 477.829 balita di NTT, jumlah yang menderita gizi kurang adalah 85.604 anak balita, 12.925 menderita gizi buruk, 425 balita menderita marasmus dan meninggal adalah 35 orang yang tersebar pada 16 kabupaten/ kota. Berbagai upaya terus dilakukan ternyata pergeserannya juga masih belum terlalu jauh, seminggu yang lalu di awal Maret 2006 jumlah gizi buruk 13.000 dan yang meninggal sudah menjadi 52. Tahun 2005, tercatat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) berkisar 554/100.000 dibandingkan dengan AKI Nasional 307/100.000 (SDKI 2002-2003). Penyebab kematian terbesar adalah perdarahan (58%) yang dipicu oleh anemia yang dialami ibu selama masa kehamilan dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) 29%. BBLR terjadi karena pada masa kehamilan ibu mengalami kekurangan energi kronik (KEK). Atau secara singkat boleh dikatakan, ibu dan anak kekurangan gizi.
Tingkat pendidikan di NTT pun memprihatinkan. Angka drop out tinggi, mencapai 54 persen. Belum lagi pemenuhan hak anak dan kepentingan terbaiknya yang terus menerus diabaikan. Dalam kenyataannya, anak NTT sangat rentan dengan kekerasan, pelecehan seksual, perdagangan anak, dan dipaksa bekerja dengan beban yang tinggi.
Berbeda dengan Yesus, yang kelahirannya selalu diingat setiap tahun, kepentingan terbaik anak sepertinya dilupakan. Dikesampingkan. Ada sebuah gejala amnesia massal akan nasib terbaik anak. Yang pasti bahwa kasus-kasus kematian dan bencana yang terkait persoalan kemiskinan hanya membuat banyak orang terenyak sejenak, namun segera dilupakan tanpa sempat menciptakan perbaikan.Amnesia kolektif atas kasus-kasus kematian akibat kemiskinan, menjadikan kematian anak-anak miskin di NTT tak pernah dipandang sebagai tragedi. Baru dikatakan tragedi kalau terkait pelanggaran berat hak asasi, yang melibatkan penderitaan korban atau kematian massal dalam satuan waktu tertentu. Selebihnya tragedi terbatas pada pelanggaran oleh negara terhadap hak sipil politik dan mengabaikan pelanggaran berat hak asasi akibat ketidakadilan di wilayah ekonomi.
Dengan cara pandang seperti itu, nasib anak NTT yang menderita dan satu per satu meninggal, tak akan pernah dianggap signifikan untuk ditangani serius. Sebab dalam sistem ekonomi global sekarang ini, keberadaan dan penderitaan kaum miskin tak akan tampak. Mereka tersembunyi di gubuk-gubuk, di pelosok-pelosok pedesaan, dan di sudut-sudut kumuh, yang ruang hidupnya tak pernah terhitung dalam sistem ekonomi formal.
Seharusnya, semakin banyaknya kasus-kasus gizi buruk dan pelanggaran kepentingan terbaik anak yang merebak ke permukaan menjadi perhatian khusus pemerintah dan masyarakat, membangkitkan emosi kepedulian yang sangat tinggi. Bahwa ini tak sekadar kasus yang berujung pada kematian seorang anak, melainkan sebuah bencana yang perlahan-lahan yang menghabiskan generasi NTT di masa datang (low on disaster). Ini sebuah pelanggaran asasi manusia, karena hak-hak dasar masyarakat sebagai manusia telah diabaikan.
Kritik atas teologi
Pada tataran teologis, peristiwa kelahiran Yesus lebih merupakan sebuah peristiwa iman. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dimensinya sangat dalam dan mendasar. Menyentuh ke hakikat wahyu, jati diri ke-Allah-an, dan orientasi gereja. Pertama, wahyu atau logos itu kini berdaging, menempati ruang dan waktu, menjadi lebih nyata dan dapat dirasai kehadirannya. Inkarnasi membuat kata-kata itu menjadi lebih berisi. Bukan hanya sekedar sebuah literer, mimpi, imajinasi, tetapi merupakan sebuah praksis, tindakan nyata. Bukan sebuah hiburan, sekedar pidato, candu, melainkan sebuah kerja nyata. Wahyu itu kini berbudaya, berbahasa manusia, dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap kejadian hidup. Kontekstual. Tidak heran, kalau dalam pewartaanNya, Yesus lebih suka menggunakan perumpaan-perumpaan yang dekat dengan kehidupan para pendengarNya. Seperti, bulir, gandum, ikan, pohon ara, keledai, anggur, minyak zaitun, dll.
Kedua, inkarnasi mengubah jati diri Allah itu sendiri. Allah yang digambarkan sebagai Bapa yang penuh kuasa, yang berada di singgasana dengan kuasa yang luar biasa, menjatuhkan hukuman, melemparkan kutukan, berpihak pada sebuah bangsa atau suku, allah yang sangat patriarkat, kini bersalin menjadi Allah yang turun ke bumi. Dekat dengan manusia. Penuh kasih. Tidak berpihak. Penuh belas kasih dan maha mengampuni. Allah yang mencintai wanita, seperti peran Maria secara lebih mulia. Karena itu pula, dalam hidupNya yang singkat itu, Yesus begitu dekat dengan orang kecil, miskin, dekat dengan perempuan-perempuan, para pendosa, kaum disfabel, mereka dari golongan kelas kedua, yang sering dilupakan dan disisihkan dalam strata sosial kemasyarakatan.
Ketiga, gereja pertama dibentuk oleh wahyu dan janji keselamatan. Gereja dimulai dengan ziarah iman keluarga Abraham, bapa-bapa bangsa, kemudian berpuncak pada Yesus Kristus, para rasul, pengganti-penggantinya. Keselamatan yang dibawa bersifat already but not yet. Artinya, (seharusnya) sudah dirasakan dari sekarang melalui tanda-tanda yang menyelamatkan dan akan terpenuhi secara sempurna nanti (eskatologis). Kalau pada masa Abraham dan ziarah bapa-bapa bangsa, keselamatan itu terkesan legalistik, dengan asumsi-asumsi psikologis, perbedaan yang mencolok antara yang profan dan yang ilahi, badan dan roh, misi keselamatan di bawah terang peristiwa inkarnasi lebih humanis dan kontekstual. Menyentuh budaya setempat, dengan penghargaan yang tinggi pada harkat martabat manusia, kebebasan, keputusan, tanpa ada perbedaan yang mencolok antara yang jasmaniah dan yang rohaniah, tubuh dan roh. Dengan begitu, gereja lebih bergerak bebas untuk mengambil perannya di tengah masyarakat. Termasuk di dalamnya isu-isu krusial soal politik, ekonomi, HAM, kesehatan, dan sosial budaya. Gereja memandang semua itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari satu tubuh yang sama.
Kelihatan sekali ada perubahan yang luar biasa dari gerak turun Allah dalam peristiwa inkarnasi tersebut. Bahwa kitab suci (seolah-olah) sudah habis dibaca, wahyu itu sudah selesai dan sekarang saatnya kehidupan nyata itu berbicara, sesuai atau tidak sesuai dengan terang kitab suci. Bukan soal aspek legalitasnya lagi yang dipersoalkan melainkan kualitas kehidupan itu sendiri yang harus dipersoalkan. Sederhananya, apakah kualitas kehidupan masyarakat sekarang sudah sesuai dengan misi keselamatan Allah?
Berhadapan dengan berbagai masalah yang terjadi di NTT, perayaan natal sebenarnya merupakan sebuah otokritik untuk mayoritas masyarakat kristen NTT. Juga buat teologi kontekstual. Apa yang sudah dilakukan sebagai wujud nyata membangun wajah NTT menjadi lebih baik? Apakah gereja lebih memilih menjadi “penonton,” lebih banyak berbicara, berdiskusi, musyawarah tanpa ada hasil yang nyata? Bagaimana dengan SDM gereja? Seberapa signifikant gereja mengubah kualitas SDM NTT dan mengambil peran secara aktif dalam pembangunan di NTT? Atau gereja hanya menjadi “lawan” dari pemerintah dalam soal program pemberdayaan masyarakat?
Kita masih berharap pada peran gereja. Selamat Natal dan Bahagia NTT di usianya yang ke-49.(*)
Selasa, 18 Desember 2007
Kamis, 06 Desember 2007
Dua Martir dan Para Sahabatku
Mungkin agak terlambat tulisan ini. Tetapi sebuah tulisan bukan soal peruntungan. Apalagi yang ditulis bersifat “memoria,” atau “catatan di sebuah jejak sejarah”, atas ketokohan seseorang. Kepergian dua “beliau”, yang satunya sudah 70-an tahun yang lalu dan yang lainnya “menyentak kalbu” karena baru saja berlalu, mungkin adalah sejarah yang ditulis secara konsisten di tengah arus gelombang kehidupan, dan juga “dalam” berkat penghayatan personal yang mengagumkan.
Tidak semua orang seperti itu. Terutama ketika berada dalam dunia dengan dua wajah yang selalu berbeda, bertentangan, bahkan bertarung untuk saling mengalahkan. Being and Nothingness. Dan dua tokoh ini begitu konsisten, bergerak “menjadi” dan menjadi “model” dari “being”, mengajak semua orang yang mereka jumpai di dunia ini untuk meninggalkan “nothingness”-nya. Mereka juga menunjukkan “ketegasan”, “penghayatan”, “keberimanan”, dan “sosialitas” lawan “anonimitas dalam antinomi”, “tenggelam dalam massa”, “spiritualitas konteks alias relativisme absolut”, “terjun bebas dimangsa hedonisme”, “formalisme yang membungkuk kepada tuan”, dan “untung rugi di tangan kanan maupun kiri”. Dalam dunia yang berbeda tersebut, mereka menjadi “the way”, cermin perjalanan seseorang, dan “the ligth”, terang yang meniadakan kegelapan bagi generasi berikutnya. Ringkasnya, dua tokoh ini adalah “sumbu” yang meretas pencerahan, kemudian mengajak sekian banyak orang menyanyikan “hosana” kebangkitan, dan bukannya “lenguh” duka di keranda kematian. Dan pada tapak itu, mereka sepertinya mengalirkan “keajaiban”, “mujizat” secara nyata, seperti mengubah “air” menjadi “anggur”, dari “wajah lama” menjadi “wajah baru”.
Tipikal duet pribadi dalam persenyawaan personalitas yang cerah itu merupakan kerinduan banyak orang. Memori akan ketokohannya menguakkan batas kemanusiawian kita menjadi sedemikian “jalang” akibat perbedaan mendasar yang ditoreh pada masa kini kita. Itu berarti, kepergian mereka sepantasnya menjadi kepergian seorang “nabi”, yang jasadnya terkubur dalam tanah tetapi “ajaran”, “tutur kata”, dan “penghayatannya” menjadi pitutur masa kini dan suri teladan generasi selanjutnya. Giliran berikut mereka menjadi “otokritik” yang menyediakan ruang bagi semua orang “memukul-mukul dirinya sendiri” dan pulang dalam penyesalan “kenapa tidak seperti mereka?”. Di sini pula, selaput “katarak” kita menjadi luluh dan “efata” (baca: terbukalah) mata kita tentang apa yang seharusnya dikerjakan, dipertahankan, dan apa yang seharusnya dilepas, diluluhlantahkan.
Menyebut dua tokoh ini pula berarti menyinggung soal pilihan hidup dan konsekuensinya. Kawin atau tidak kawin dan bukan tidak kawin sekaligus kawin. Biarawan atau awam dan bukan awam sekaligus biarawan. Namun tidak demikian jadinya. Biarawan atau awam adalah suci atau tidak suci, sakral atau tidak sakral, ilahi atau tidak ilahi. Dalam dimensi ini, baik biarawan maupun awam adalah sama-sama suci, sakral, ilahi dalam sebuah “ruah” (baca: nafas) dan wadah yang tidak lagi menjadi beda, antara yang ada dan yang tiada. Sebab secara sakral, ilahi, dan yang suci tersembunyi makna terdalam kehidupan, ada-nya secara penuh dalam ketiadaan yang sunyi, seperti Sang Pencipta, yang (dirasakan) Ada-Nya, sekaligus (dirasakan) Tiada-Nya. Juga begitu, tidak ada lagi perpisahan, perbedaan antara yang biarawan dan yang awam, tidak ada lagi ruang vakum, sebab semua sudah terisi oleh Yang Ada dan Yang Tiada.
Dalam pandangan ini, patut kita berterima kasih pada dua tokoh ini. Mereka sudah menunjukkan bagaimana semua orang harus memandang kehidupan ini. Yang paling penting adalah mencintai kehidupan ini karena bersumber dan berakhir pada yang suci, sakral, dan ilahi, berikut konsisten terhadap pilihan hidup yang sudah diputuskan. Mereka menjadi sedemikian pro life, karena melihat kehidupan itu secara suci, sakral, dan ilahi, tetapi juga pro choice, karena konsisten pada keputusan yang sudah diambil. Dan justru di situlah, pertanyaan terbesar untuk apa kehidupan itu terlunaskan sudah dalam kepasrahan total di sebuah tarikan nafas terakhir.
Pertengahan April kemarin, apa yang sudah dimulai oleh Sang Maha Guru, Petrus, dan kawan-kawannya diteruskan secara sakral melalui pentahbisan “yang terpilih dari yang dipanggil” para diakon. Beruntung bahwa saya mengenal mereka secara lebih dekat. Karena mereka pernah menjadi kawan-kawan kelas saya. Tetapi lebih beruntung bagi mereka yang tidak mengenalnya. Sebab justru dari bumi Flobamora ini, dunia berharap banyak mendapat “murid”-Nya. Ini sebuah kebanggaan. “Wajah Flobamora muncul di mana-mana”. Dan berharap, semoga kebanggaan yang sama pada dua tokoh di atas juga disematkan di hati dan pundak mereka. Lebih beruntung lagi, sebab mereka juga pernah merasakan tempaan tangan mulia, alm. P. Niko Hayon. Dia dikenal sebagai dosen Liturgi, Pelawak Kondang “nyaris” Tukul, tetapi terutama karena “kapasitas kerohanian dan penghayatan imamatnya yang purna”. Bersama sejarah yang terentang pada kayu salib Sang Guru, oleh pengabdian darah para martir, dan dijiwai semangat imamat Mgr. Gabriel Manek, P. Niko Hayon, ada sebuah titisan yang mengalir dari jantung iman itu, demikian bunyinya: “Apa yang ada pada saya hanya sebagian kecil dari generasi pendahulu dan generasi sesudah saya. Sejarah itu terus berlanjut, dan tidak berhenti di sebuah titik, pada sebuah pribadi. Ia senantiasa harus dikembalikan ke titik nol, supaya ada pencerahan, dan refleksi, ada pembaruan, dan ada kemajuan. Kebanggaan pada seseorang hanya merupakan nyanyi merdu ucapan bibir, pemanis mulut, dan tidak merupakan titik akhir dari sebuah perjalanan panjang. Tokoh-tokoh itu hanya hadir sebagai sebuah reffrein, sebuah chorus, yang harus diulang terus menerus dalam sejarah, dengan kekuatan, makna, yang seharusnya lebih dasyat dari itu.” Kenapa tidak!***
Tidak semua orang seperti itu. Terutama ketika berada dalam dunia dengan dua wajah yang selalu berbeda, bertentangan, bahkan bertarung untuk saling mengalahkan. Being and Nothingness. Dan dua tokoh ini begitu konsisten, bergerak “menjadi” dan menjadi “model” dari “being”, mengajak semua orang yang mereka jumpai di dunia ini untuk meninggalkan “nothingness”-nya. Mereka juga menunjukkan “ketegasan”, “penghayatan”, “keberimanan”, dan “sosialitas” lawan “anonimitas dalam antinomi”, “tenggelam dalam massa”, “spiritualitas konteks alias relativisme absolut”, “terjun bebas dimangsa hedonisme”, “formalisme yang membungkuk kepada tuan”, dan “untung rugi di tangan kanan maupun kiri”. Dalam dunia yang berbeda tersebut, mereka menjadi “the way”, cermin perjalanan seseorang, dan “the ligth”, terang yang meniadakan kegelapan bagi generasi berikutnya. Ringkasnya, dua tokoh ini adalah “sumbu” yang meretas pencerahan, kemudian mengajak sekian banyak orang menyanyikan “hosana” kebangkitan, dan bukannya “lenguh” duka di keranda kematian. Dan pada tapak itu, mereka sepertinya mengalirkan “keajaiban”, “mujizat” secara nyata, seperti mengubah “air” menjadi “anggur”, dari “wajah lama” menjadi “wajah baru”.
Tipikal duet pribadi dalam persenyawaan personalitas yang cerah itu merupakan kerinduan banyak orang. Memori akan ketokohannya menguakkan batas kemanusiawian kita menjadi sedemikian “jalang” akibat perbedaan mendasar yang ditoreh pada masa kini kita. Itu berarti, kepergian mereka sepantasnya menjadi kepergian seorang “nabi”, yang jasadnya terkubur dalam tanah tetapi “ajaran”, “tutur kata”, dan “penghayatannya” menjadi pitutur masa kini dan suri teladan generasi selanjutnya. Giliran berikut mereka menjadi “otokritik” yang menyediakan ruang bagi semua orang “memukul-mukul dirinya sendiri” dan pulang dalam penyesalan “kenapa tidak seperti mereka?”. Di sini pula, selaput “katarak” kita menjadi luluh dan “efata” (baca: terbukalah) mata kita tentang apa yang seharusnya dikerjakan, dipertahankan, dan apa yang seharusnya dilepas, diluluhlantahkan.
Menyebut dua tokoh ini pula berarti menyinggung soal pilihan hidup dan konsekuensinya. Kawin atau tidak kawin dan bukan tidak kawin sekaligus kawin. Biarawan atau awam dan bukan awam sekaligus biarawan. Namun tidak demikian jadinya. Biarawan atau awam adalah suci atau tidak suci, sakral atau tidak sakral, ilahi atau tidak ilahi. Dalam dimensi ini, baik biarawan maupun awam adalah sama-sama suci, sakral, ilahi dalam sebuah “ruah” (baca: nafas) dan wadah yang tidak lagi menjadi beda, antara yang ada dan yang tiada. Sebab secara sakral, ilahi, dan yang suci tersembunyi makna terdalam kehidupan, ada-nya secara penuh dalam ketiadaan yang sunyi, seperti Sang Pencipta, yang (dirasakan) Ada-Nya, sekaligus (dirasakan) Tiada-Nya. Juga begitu, tidak ada lagi perpisahan, perbedaan antara yang biarawan dan yang awam, tidak ada lagi ruang vakum, sebab semua sudah terisi oleh Yang Ada dan Yang Tiada.
Dalam pandangan ini, patut kita berterima kasih pada dua tokoh ini. Mereka sudah menunjukkan bagaimana semua orang harus memandang kehidupan ini. Yang paling penting adalah mencintai kehidupan ini karena bersumber dan berakhir pada yang suci, sakral, dan ilahi, berikut konsisten terhadap pilihan hidup yang sudah diputuskan. Mereka menjadi sedemikian pro life, karena melihat kehidupan itu secara suci, sakral, dan ilahi, tetapi juga pro choice, karena konsisten pada keputusan yang sudah diambil. Dan justru di situlah, pertanyaan terbesar untuk apa kehidupan itu terlunaskan sudah dalam kepasrahan total di sebuah tarikan nafas terakhir.
Pertengahan April kemarin, apa yang sudah dimulai oleh Sang Maha Guru, Petrus, dan kawan-kawannya diteruskan secara sakral melalui pentahbisan “yang terpilih dari yang dipanggil” para diakon. Beruntung bahwa saya mengenal mereka secara lebih dekat. Karena mereka pernah menjadi kawan-kawan kelas saya. Tetapi lebih beruntung bagi mereka yang tidak mengenalnya. Sebab justru dari bumi Flobamora ini, dunia berharap banyak mendapat “murid”-Nya. Ini sebuah kebanggaan. “Wajah Flobamora muncul di mana-mana”. Dan berharap, semoga kebanggaan yang sama pada dua tokoh di atas juga disematkan di hati dan pundak mereka. Lebih beruntung lagi, sebab mereka juga pernah merasakan tempaan tangan mulia, alm. P. Niko Hayon. Dia dikenal sebagai dosen Liturgi, Pelawak Kondang “nyaris” Tukul, tetapi terutama karena “kapasitas kerohanian dan penghayatan imamatnya yang purna”. Bersama sejarah yang terentang pada kayu salib Sang Guru, oleh pengabdian darah para martir, dan dijiwai semangat imamat Mgr. Gabriel Manek, P. Niko Hayon, ada sebuah titisan yang mengalir dari jantung iman itu, demikian bunyinya: “Apa yang ada pada saya hanya sebagian kecil dari generasi pendahulu dan generasi sesudah saya. Sejarah itu terus berlanjut, dan tidak berhenti di sebuah titik, pada sebuah pribadi. Ia senantiasa harus dikembalikan ke titik nol, supaya ada pencerahan, dan refleksi, ada pembaruan, dan ada kemajuan. Kebanggaan pada seseorang hanya merupakan nyanyi merdu ucapan bibir, pemanis mulut, dan tidak merupakan titik akhir dari sebuah perjalanan panjang. Tokoh-tokoh itu hanya hadir sebagai sebuah reffrein, sebuah chorus, yang harus diulang terus menerus dalam sejarah, dengan kekuatan, makna, yang seharusnya lebih dasyat dari itu.” Kenapa tidak!***
Langganan:
Postingan (Atom)