Senin, 22 September 2008

Dari Satpam Menuju Jutawan

Orang Korea selalu merasa waktu ada bersama dirinya. Setiap detik tidak pernah dibuang percuma. Etos kerja yang mepet, hingga melupakan diri sendiri. Orang Tiongkok menghitung setiap sen duit dengan cermat. Tidak meremehkan dua puluh lima perak dalam kantung pundi-pundinya, karena berilmu pada semut yang mengumpulkan sedikit untuk banyak. Orang India menjadi tukang dunia, yang mengetahui detail setiap ruas pipa, kabel, dan ilmu teknis. Sementara itu, orang Padang merasa memiliki citarasa masakan Indonesia, karena berhasil merampok lidah Melayu dengan masakan Padang di segala penjuru nasional.


WS Rendra, Si Buruk Merak itu, pernah melontarkan pujian pada orang Flores. Dalam orasinya berjudul “Selamatkan Kekayaan Negara dengan Kedaulatan,” Rendra memuja Flores sebagai suku bangsa yang tidak pernah ditaklukkan di Tanah Air. ‘Begitu kuatnya budaya yang melasaki jiwa orang-orang Flores itu, sehingga mereka memiliki kedaulatan dalam dirinya sendiri,’ kata Rendra. ‘Yang terjadi di Flores adalah perpaduan yang kental antara budaya lokal dan budaya modern, antara agama dan kepercayaan tradisional, antara bumi, air, api, dan manusianya.’


Namun, apalah artinya kedaulatan tersebut, kalau hanya menjadi kebanggaan di masa lalu? Toh, orang Korea tetap merasa memiliki waktu, orang Tiongkok memiliki duit, orang India tetap menjadi tekhnokrat, dan orang Padang memiliki citarasa nasional. Di tambah pula imperialisme modern “The five sister,” Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, Flores sepertinya dihimpit dengan kekuatan-kekuatan yang mapan dan tak terkalahkan. Sebagai premis awal, sekarang bukan saatnya lagi mengatakan budaya atau suku bangsa itu kalah atawa dikalahkan, melainkan mampu atawa tidak mampu bersaing.


Pendidikan dan Persaingan
Cerita orang sukses dari Flores selalu dimulai dengan sebuah zaman antah berantah. Seorang wartawan sukses dari daerah yang kersang di Flores menceritakan kesuksesannya dari gaji Rp 150 ribu per bulan dengan menjadi satpam. Seorang business man dari Flores mengakhiri ceritanya dengan kata-kata kutipan peribahasa ‘bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.’ Seorang Marketing Manajer dari Flores mengibakan kisah hidupnya dengan menumpang tanpa sepeser duit dari kos ke kos, namun sukses karena ketekunannya.


Karakteristik Florenesis sudah sangat akrab di telinga para berduit di kota-kota besar. Mempekerjakan orang Flores sama sekali tidak merugi. Pekerja keras, jujur, dan dapat dipercaya. Attitude skill yang tidak diragukan. Karena keterampilan itu pula, orang Flores dikenal cerdas dan tangguh.


Namun, kekalahan telak bisa dirasakan kalau sudah masuk ke soal kecerdasan praktis, menjadi orang yang benar-benar spesial pada sebuah bidang. Persaingan akhirnya merucut pada spesialisasi, pada kejelimekan memahami ranah soal, dan budaya klik tanpa perlu menghabiskan waktu dengan mengandalkan solusi manual. Pada spesialisasi ini, orang Flores seperti baru belajar menyelam, atawa kembali menjadi kepompong dan menetek di dunia pengalaman.


Dasar orang Flores! Gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo, sesulit apa pun spesialisasi tersebut, sang Flores tak kunjung menyerah. Tetes demi tetes air susu pengalaman itu diendapkan menjadi pengalaman berharga. Sama halnya dengan tantangan mendaki sebuah bukit untuk mendapatkan satu jerigen air bersih. Sama pula dengan bermain sepak bola di sebuah lapangan miring. Sama juga dengan berjalan kaki ke sekolah yang letaknya nun jauh di sana. Lantas, premis berikutnya adalah orang Flores mampu bersaing, dengan berkaca pada wajar kasar kehidupan ibunya.


Lalu, Apa?
Tentang segala sesuatu, hanya perubahanlah yang tetap. Perubahan hanya bisa melebarkan sebuah gelas menjadi mangkuk, mangkuk menjadi panci, dan panci menjadi gentong. Sekali aluminium, tetap aluminium, sekali Flores, tetap Flores. Namun, bukankah mangkuk lebih luas dari gelas, panci lebih lebar dari mangkuk, dan gentong terhadap panci. Bayangkan saja, kalau isinya adalah makanan, berapa banyak yang diperoleh dari setiap perluasan wadah tersebut?


Pendidikan meninggalkan bekas melentur pada inti diri. Melalui imajinasi, pendidikan meneguhkan kemauan dan otot-otot untuk bekerja. Pendidikan itu sumbu, sejauh mana api itu bisa menyala dan menerangi tubuh.


Namun, pendidikan tidak sama sekali berguru pada diktat. Diktat hanya membancikan kata dan mempermalukan pengalaman. Diktat mengurung roh hidup dan kemampuan mempelajari dinamika hidup di alam ruah.


Kisah sejati orang sukses bertumpu pada gigihnya orang Flores berjalan berkilo lamanya demi pelajaran membaca dan menulis, demi seteguk air bersih, dan sesuka hati menendang bola di tanah miring. Dari satpam menuju jutawan!(*)

Jumat, 13 Juni 2008

Mari Menjual Daerah: Pilkada NTT


Sebelum Pilkada, rakyat selalu menjadi yang nomor satu. Sang calon sangat sensitif publik. Persoalan dan penderitaan rakyat terbentang seperti “balok” di pelupuk mata. Namun, sudah lumrah, balok itu menjadi setitik noktah, malah nyaris tak tersentuh, ketika kursi panas itu sudah terduduki. Mengapa?

Politik Selebrita

Pilkada seperti layar lebar, sejenak mengangkang ke pikiran dan membooming. Kemudian, lewat waktu, ia terbujur nyaris mati.

Pamflet, selebaran, spanduk, kampanye bercampur massa merupakan bagian dari hipnotisasi itu. Semua pikiran seperti tertekuk, menyorot tajam pada sosok yang ingin memimpin. Pikiran pada kehidupan menjadi gamang. Kehidupan nyata lantas terlupakan, karena kata dan janji itu seperti mencerapkan bahasa hiburan tak berhenti, dengan kepuasaan berjengkal-jengkal.

Visi dan misi, tertulis seperti kata-kata hidup, yang terlahir dari pembacaan kilas rangkai harapan massa. Namun, penggelembungan itu menjadi santet, seperti meneror dan mengintimidasi tanpa rasa sakit dan takut. Malah orang terbawa, menjadi satu hati karena tak sadar tersiksa dalam kerangkeng itu.

Sosok, lebih sesak karena menilai sendiri kebenarannya. Sosok seperti mengutuk, menularkan wabah pada masyarakat. Namun, tiada seorang pun tahu, seperti apa dirinya menjadi, sebelum tersohor menjadi calon. Sosok menjadi popok, begitu pasrah menampung “kotoran”, seolah-olah sekian mendengarkan, merasa senasib dan sepenanggungan, dan mengkahyalkan kebahagiaan bersama dari sebuah kursi, dengan kue yang diperebutan banyak kepentingan.

Surat kabar, majalah, buletin, berpihak pada siapa? Menjual diri untuk meluputkan loper dari kemiskinan? Atau merubrikkan konflik dengan menceritakan kebaikan dan keburukan dari sisi yang cover both side (katanya!).

Celah ini menjadi semakin takabur, karena bercampur dengan mamon (duit). Tangan terendah membuka dan mengatup, dengan genggaman penuh durian jatuh. Apa pula yang terjadi, kehidupan itu terkapar dalam gengaman antara duit dan saku, perut dan kehendak. Satu piring ubi tatas bisa diganti dengan Rp 50 ribu bahkan Rp 100 ribu per kepala keluarga, hanya untuk mencari pendukung. Benar-benar “Bantuan Tunai Langsung.” Sementara parpol berpesta pora, KUPD kegenitan, sosok mengelus kursi, toh rakyat tetap gigit jari. Cuma bisa melihat, mendengar, mengagumi, namun tiada pernah bisa memiliki duit sekitar Rp 10 juta, bahkan sepanjang hidupnya, pada tawar menawar di lantai bursa pencalonan tersebut.

Pilkada, memiskinkan atau malah memperkaya? Benar, dua-duanya sedang bertarung, untuk memiskinkan dan memperkaya, tergantung pada siapa membayar siapa, menang atau kalah. Sesudahnya, menguap menjadi senyap!

Menjual Daerah

NTT, semua mata tengah memandang. Ada emas, batubara, fosfor, biji besi, panas bumi. Katanya, potensial!

Krisis energi, minyak melambung, dolar makan rupiah, tetapi pilkada tetap hiruk pikuk.

NTT itu miskin, tertinggal. Bocah-bocahnya kurang gizi. Tetapi, kok sebagian dari mereka di tanah rantau (kaum diaspora NTT) gemuk-gemuk?

Tiga kenyataan ini adalah pilihan sambung bersambung. Pertama, melihat potensi, pemimpin terpilih membubuhkan tanda tangan pada kontrak karya, dan sebuah daerah dari hektar luas pertanian, perkebunan, peternakan, perkampungan melayang ke meja para kuasa tambang. Kedua, tambang menghidupkan pendapatan daerah, menumbuhkan perekonomian dan berakibat pada pendapatan per kapita. Atau merupakan jalan keluar zero to zero, setelah pesta politik itu berakhir dengan utang? Ketiga, bocah-bocah itu kehilangan tempat bermain dan makanan mereka, karena ladang mereka sudah disulap menjadi perkampungan lumpur dan limbah. Keempat, dengan cara apa lagi untuk meyakinkan sang terpilih bahwa ruang hidup yang sudah terpelihara bertahun-tahun itu hanya perlu ditriger menjadi lahan usaha yang local contain. Kelima, penghematan dan pertumbuhan, efisiensi dan elaborasi hanya bisa datang dari pencermatan ruang hidup dan kebiasaan boros memboros. Tradisi yang boros, agama yang boros, pendidikan yang boros, energi yang boros, informasi yang boros, politik yang boros, dan waktu yang boros. Ini yang harus diubah. Mulai menyikapi krisis energi, inflasi, dengan tidak memboros!

Namun, persoalannya ada pada sang terpilih. Sering dan sangat mungkin, daerah, hektar per hektar dijual dengan MOU dan tanda tangan. Rakyat menggelepar. Pilkada, dari pesta menjadi utang. Utang dibayar tanah. Tanah dibayar tangis dan darah. Dan NTT, dari potensial menjadi potensialan(ha...ha.....ha....!).