Selasa, 21 Februari 2012

Nadus Tidak Mau Tahu Sebho Tidak Mau Repot

Mengenang Rm Bernardus Sebho, Pr

Dia disemayamkan di Kapela St Alfonsus Liguori, Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko. Kapela itu buah karya dan jerih payahnya. Sepertinya dia sudah mempersiapkan ruang tunggunya, sebelum masuk ke kediaman abadi.

Berita kepergian Rm Bernardus Sebho, Pr ke Rumah Bapa cukup mengejutkan. Sedemikian tiba-tiba. Di saat Alumni Seminari Mataloko sedang memantau saat demi saat kondisi P Alfons Engels, Sang Maestro Pedadog yang tengah terbaring sakit. Dua orang ini, baik Rm Nadus maupun P Alfons, adalah irisan dari Penyelenggaraan Ilahi dan Karya Manusia, terutama untuk mentahbiskan generasi bermutu dari Lembah Sasa.

Rm Nadus, demikian sapaannya, lahir di Maunori pada 28 April 1958. Dia adalah Kepala Sekolah Seminari Mataloko periode 1993 hingga 2000, masa peralihan pengelolaan Seminari Mataloko dari SVD ke Imam Projo. Selanjutnya, Rm Nadus diangkat menjadi Praeses (Bapa Rumah) Seminari Mataloko pada 2001 hingga 2006. Beliau menjadi Praeses Imam Projo kedua setelah Rm Albinus Rupa, Pr.

Beberapa alumni Seminari Mataloko mengenang Beliau sebagai guru mata pelajaran agama. Tetapi, Rm Nadus kadang masuk kelas untuk menyentil berbagai pelajaran seperti Bahasa Inggris, Matematika, atau Fisika. Dalam kelompok lebih kecil, Beliau adalah guru Public Speaking. Untuk figurnya di depan kelas, dia nampak sangat cerdas. Juga seorang motivator. Kesukaannya adalah membuka cakrawala baru. Karena itu, pelajaran agama bukan lagi soal mengamini kutipan  Kitab Suci dan menghafal Hidup dan Karya Yesus. Lebih dari itu, Rm Nadus mengajak siswanya untuk berpikir analitis, kritis, dan praktis. Dan yang terutama adalah praktis.

"Apa gunanya agama jika tidak berfungsi dan bermakna dalam keseharian hidup kita? Inkarnasi itu letaknya adalah pengejawantahan iman dalam hidup nyata kini," katanya ketika berdiri di depan kelas suatu ketika.
Sekali waktu, Rm Nadus menginspirasi para siswanya supaya tidak hanya sekedar mampu berbicara, tetapi wajib berbicara padat, berisi, menarik, dan memukau.

"Jika jarum yang jatuh bisa didengar oleh semua orang pada suatu forum ketika kalian berbicara, kalian sudah berhasil menjadi seorang pembicara yang menarik," kata dia.

Rupanya Rm Nadus adalah penikmat seni. Dia jatuh cinta pada Si Burung Merak WS Rendra. Dia juga pengagum "Aku" Chairil Anwar dan bersimpuh dalam suasana hikmat berkat "Doa" penyair yang sama: Di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.

Kata-kata kunci ini: analitis, kritis, dan terutama praktis. Lalu, padat, berisi, menarik, dan memukau. Sedikit memberontak ala WS Rendra dan “Aku” Chairil Anwar. Tetapi, tetap reflektif seperti “Doa” Chairil Anwar. Itulah Rm Nadus.

Tidak heran jika Beliau begitu lekat dikenal umat paroki Wangka dengan jargon: Nadus tidak mau tahu, Sebho tidak mau repot. Dia tegas, prinsipil. Seperti terasa dia sedang memberontak di kepala kebanyakan orang. Demi sebuah kebaikan bersama, apalagi untuk pengejawantahan iman yang praktis, dia adalah Aku-nya si Chairil Anwar. Tidak mau seorang pun kan merayu, kendati peluru menembus kulit. Setelah melakukan "pemberontakan" itu, Rm Nadus akan menyelesaikannya dengan solusi yang lebih praktis. Tidak mau repot. Ketegasan itu pula yang dia tunjukkan untuk Paroki Mangulewa dan Jerebuu.

Dalam salah satu kesempatan asistensi bersama Beliau di Maunori, paroki tempat kelahirannya, dia pernah mengatakan, "iman adalah puisi yang senantiasa berlari." Lanjut dia, "puisi itu butuh inspirasi. Butuh rahim untuk dilahirkan. Sama seperti iman, butuh inspirasi untuk dilahirkan. Umat adalah rahim iman. Mari kita berlari kepada rahim itu untuk iman dan puisi hidup kita."

Saat itu saya menjadi mengerti, mengapa Bapa Rumah kami itu "sering" tidak dijumpai di Seminari. Dia seolah-olah membiarkan anak-anaknya sendirian. Karena Rm Nadus, entah sebagai Kepala Sekolah maupun Bapa Rumah, akan melangkahkan kakinya keluar untuk bersilahturahmi dengan umat, sahabat, dan kenalannya.

Tentang ini ada sisi paradoksal untuknya. “Dia selalu pulang subuh. Entah apa yang dilakukannya di luar Seminari. Hingga kadang dia harus dibangunkan untuk memimpin misa harian di Kapela SMP atau SMU jika itu memang menjadi jadwalnya. Kadang, hanya karena pulang subuh itu, misa harian akhirnya dilakukan sore hari. Itu kalau lagi apes, karena koster tidak mampu mencari pengganti. Kadang Rm Nadus kelihatan memimpin misa sambil mengantuk. Ini memang bukan contoh yang baik untuk harga sebuah kedisiplinan seperti kebiasaan di Seminari.”

Namun, Rm Nadus selalu tahu misi yang harus dilakukannya sebagai Bapa Rumah. Dalam situasi serba terbatas, Seminari harus tetap menghasilkan buah.

Teringat sambutan Rm Nadus pada akhir sidang BP3 pada 20 Juli 1999. Selaku Praeses kala itu, dia mengatakan, “Dengan kegiatan BP3 ini Seminari mulai menemukan ibunya sendiri, yaitu umat. Seminari telah dikembalikan dari statusnya sebagai Seminari Hierarki-karena hanya menjadi urusan hierarki-kepada Seminari Umat.”

Jika ingin terus berbuah, Seminari Mataloko tidak punya pilihan lain kecuali membuka diri kepada umatnya. Kepada ibu yang melahirkannya. Keyakinan itulah yang dia bawa dalam lawatannya di tengah umat. Dengan cara itu pula, Seminari Mataloko dipulangkan kepada asalnya. Lalu dimulailah era BP3 yang mengawal pendidikan Seminari. Puncaknya pada Perayaan Intan Seminari Mataloko di Tahun 2005. Seminari Mataloko benar-benar menjadi milik umat, yang berpadu pada intimasi perayaan ekaristi dan  makan bersama sebagaimana layaknya Perayaan Syukur sesuai adat istiadat masyarakat Ngada. Rm Nadus adalah otak di balik perayaan itu. Karena lawatan demi lawatan itu, semua pekerjaan menjadi begitu mudah. Yah, dia tahu bagaimana harus menjaga, merawat, dan membesarkan Seminari Mataloko untuk terus menghasilkan buah.

Dari Seminari Mataloko, Rm Nadus ke Jerebuu. Rupanya Jerebuu hanyalah titian menuju jabatan Vikaris Episkopal (Vikep) Bajawa. Dalam titian itu, Rm Nadus dibasuh kembali dalam rahim puisi yang senantiasa berlari. Dia begitu nyaman dan bahagia untuk sebuah Reba Jerebuu yang dialaminya. Karena hanya dengan dekat pada rahim yang melahirkan puisi dan iman itulah, Rm Nadus selalu punya inspirasi untuk mewartakan dan mengejawantahkan inkarnasi Kristus.

Rm Nadus sedang mempersiapkan pesta perak tahbisannya tahun ini. Panitia telah terbentuk. Rumah kediaman yang sedianya akan digunakan untuk tempat perayaan sedang direnovasi. Tatkala Tuhan memanggil, Rm Nadus sedang mempersiapkan diri melawat ke Paroki Boba pada Sabtu (18/2) kemarin. Dia jatuh dan tak tertolong. Tuhan memanggilnya di saat dia sedang merindu untuk kembali ke rahim puisinya. Maka, berbahagialah umat Boba. Tangan sang seniman Tuhan itu sedang merentang untuk memanjatkan doa. Dia seolah-olah sedang menjemput teriakan “sudah selesai” di salib dengan tetap memeluk kecintaannya untuk berada dalam lawatan umatnya.

Yah, Rm Nadus memang selalu berlari. Tidak pernah dia bisa tinggal diam. Atau terpekur di salah satu ruangan. Bahkan kamarnya sendiri. Dia selalu dijumpai dalam pertemuan, lawatan, dan silahturahmi.

Bingkai cerita dari kepergian Rm Nadus sama persisnya dengan keseluruhan cerita Yesus. Tuhan itu lahir dalam sebuah perjalanan. Pertama-tama bermula dari ziarah kepasrahan seorang Maria setelah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Maria lantas mengungjungi Elisabeth, saudaranya. Kemudian di tengah usia kandungannya yang semakin membesar, Yusuf harus mengungsikan Maria dari Nazareth untuk mendaftarkan diri ke Bethlehem. Dalam perjalanan itu, Yesus lahir.

Cerita perjalanan itu pun berlanjut. Para gembala bergegas menuju kandang Bethlehem untuk menyaksikan Yesus setelah mendapat kabar dari Malaikat Gabriel. Sementara itu, Tiga Raja dari Timur terpaksa harus berjalan jauh untuk menjumpai Sang Juru Selamat yang sudah diramalkan sejak masa Perjanjian Lama.

Yesus pun harus dilarikan Yusuf ke Mesir oleh ancaman Raja Herodes. Mesir mengingatkan gereja pada perjalanan Musa dan bangsa pilihan menuju ke tanah terjanji. Setelah itu, Yesus mulai mengajar, menyembuhkan, dan membuat banyak mukjizat dari kunjungan dan lawatan-Nya.

Babak paling radikal adalah ketika Dia harus menempuh perjalanan menuju golgota dengan memanggul salib. Namun, Dia akhirnya bangkit dan mewartakan kabar gembira itu dalam perjalanan-Nya bersama dua murid ke Galilea. Dia bangkit pada ketergesaan dan lari cepat para murid menuju kubur-Nya. Dia bangkit pada lawatan-Nya kepada para murid-Nya.

Tidak berlebihan, keyakinan Rm Nadus soal lawatan itu adalah permenungan panjang dirinya tentang agama, iman, dan inkarnasi Kristus dalam hidup nyata. Dia memang tidak mau tahu dan tidak mau repot. Karena iman tidak butuh dibumbui dan didandani. Iman hanya butuh sesuatu yang tidak dibuat-buat, yang hidup dalam dinamika dan keseharian. Karena itu, iman itu perlu ditemukan melalui lawatan dan silahturahmi. Melalui gerak turun. Seperti yang sudah dilakukan Rm Nadus sepanjang dia memikul salibnya. Dia telah menggapai perak imamatnya dalam pelukan Sang Pembaca Puisi, sebuah Puisi yang senantiasa berlari. Dan orang-orang yang pernah mengalami lawatannya pun tumpah ruah melepaspergikan Sang Gembala Baik itu. Dalam dada mereka, kunjungan Rm Nadus tetap membekas di hati.(*)

Kamis, 09 Februari 2012

KAU TETAP HIDUP TUA ENGE

Sebuah Penghormatan untuk P Alfons Engels SVD

Saya mengenang Pater Alfons Engels SVD atau Tua Enge dari beberapa peristiwa. Pertama, Dia adalah guru bahasa Jerman kami. Dengan buku jilitan Wir Sprechen Deutsch yang nyaris usang, Tua Enge menulari kami bahasa ibunya itu. Kendati Bahasa Jerman baru mulai diajarkan pada kelas lima Seminari atau kelas dua di Sekolah Menengah Umum pada masa kami, Tua Enge tidak mau tahu. Dari jam pertama pelajaran hingga detik terakhir, Tua Enge tancap gas dengan Bahasa Jerman. Kami seperti diceplung Tua Enge pada kolam yang dalam, walau kami tidak bisa berenang. Lantas, sekuat tenaga kami harus menyelamatkan diri. Tetapi, lama kelamaan kami jadi tahu berenang (baca: Bahasa Jerman) karena belajar dari pengalaman.

Ada yang lucu selama Tua Enge jadi guru Bahasa Jerman. Tua Enge pernah kentut di depan kelas saat dirinya jongkok untuk menulis kata-kata pengecualian dari jenis kata Maskulin. Menyadari dirinya kentut, lantas Tua Enge berbalik, "Ups...tadi makan buncis!" Tua Enge yang terkenal konsisten dan disiplin itu pun melanggar peraturannya sendiri. Itu seruan Bahasa Indonesia pertama dan terakhir untuk kelas Bahasa Jerman.


Mungkin karena sudah terbilang tua, Tua Enge sering keceplosan menyebutkan kunci jawaban untuk soal ujian di depan kelas. Kami sungguh memanfaatkan kelemahan ini. Secara bergiliran kami akan bertanya, seolah-olah soal-soal itu tidak jelas. Lalu Tua Enge akan membaca ulang soal-soal itu dan diakhiri dengan menyebutkan kunci jawaban a,b,c, atau d. Lumayan kalau yang bertanya sekitar 10 orang.

Tentang orang sakit, Tua Enge yang paling bertanggung jawab. Romo Bernadus Sebho, seorang Kepala Sekolah bahkan mendapat tamparan dari Tua Enge karena kurang cekatan membantu meluruskan tangan seorang siswa yang patah. Namun, hal kedua ini yang saya ingat. Tua Enge tidak berdaya atas "kegilaan" Pater Elias Doni Seda.


Pater Elias adalah perfek SMP kala itu. Tidak sekali dua, Pater Elias mengusir kami dari kamar tidur pada malam hari atau jelang subuh karena ulah satu dua siswa yang ribut. Malam itu di tahun 1992 kami baru saja selesai berdoa. Tidak mau diusir lagi dan menginap di luar beratapkan langit, kami kunci mulut. Benar-benar silentium magnum karena memang tidak ingin tidur kami terusik lagi. Sebagian siswa malah sudah masuk dalam selimut.


Sekonyong-konyong Pater Elias membunyikan lonceng dan meminta kami untuk segera mengangkat tempat tidur keluar. Malam itu kami wajib mengosongkan kamar tidur. Kami diinstruksikan untuk slaber ruangan kamar tidur, mengeringkannya, dan memasukkan kembali tempat tidur. Sekitar Pukul 03.00 WITA barulah kami diizinkan tidur.


Malang bagi siswa yang sakit dan beristirahat di kamar tidur. Bagi Pater Elias, merekalah biang keladinya. Tongkol jagung sisa makan malam hari itu berserakan di bawah kolong tempat tidur. Hal ini yang menyebabkan "kegilaan" Pater Elias kambuh. Lantas sekitar 10 siswa yang sakit dan beristirahat di kamar tidur itu pun disuruh berlutut di halaman tengah, persisnya di halaman depan Aula SMP.

Beberapa Romo pembina sudah meminta supaya orang sakit jangan dihukum. Tetapi Pater Elias tak bergeming. Barangkali senioritas Tua Enge bisa melumpuhkan ketegaran hati Pater Elias. Sekali lagi Tua Enge meminta supaya Pater Elias membebaskan orang sakit dari hukuman itu. Malam dingin dan berkabut seperti Mataloko sangat tidak baik untuk orang sakit Malaria seperti 10 siswa itu dihukum berlutut. Namun, Pater Elias tetap tak bergeming.


Tua Enge hanya bisa mengurut dada dan menggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali ke kamar. Kabarnya, Tua Enge langsung berdoa.


Semula saya tidak mempercayai kalau Tua Enge itu bisa salah cabut gigi yang sakit. Tabib sekelas Tua Enge tidak mungkin salah. Tetapi, Pak Ambros Sina, guru musik angklung dan kulintang telah mencucukkan mata saya untuk percaya. Demikian halnya Mr Steve Sahaba, guru Inggris asal Manggarai. Ini hal ketiga yang melekat dalam ingatan saya.


“Pak Ambros kok dua pipi itu masih bengkak. Sudah ke Pater Engels?” tanya saya.
“Sudah. Tapi Pater salah cabut. Gigi saya yang sakit sebelah kanan, Pater cabut sebelah kiri.” Jawab dia.
“Kenapa tadi tidak mau bilang sama Pater?” tanya saya lagi.
“Saya takut Pater marah jadi saya tahan sakit saja.” Kata dia.
“Ke Pater lagi supaya cabut gigi yang sakit.” Anjur saya.
“Tidak mau lagi. Nanti salah cabut lagi.”


Dalam hati saya membatin, “Tuhan, tolong maafkan saya, sesungguhnya bukan kehendak saya.” Lalu membuncahlah tawa saya menyesaki lorong di antara Kamar Makan Unit C dan Polik Seminari.


2


Saya dan teman-teman angkatan yang masuk Seminari Mataloko pada 1992 atau yang lulus pada 1997/1998 sesungguhnya mengenal totalitas sosok Tua Enge pada periode usianya sekitar 73 hingga 79 tahun. Lalu saya berjumpa lagi dengan Tua Enge pada periode usia 84 hingga 86 tahun di Seminari Mataloko. Tepat ketika Seminari Mataloko tengah mendulang usia intannya pada 2005.


Ada warna yang berbeda dari totalitas Tua Enge pada dua periode tersebut. Pada usianya yang menginjak masa 70 tahun, Tua Enge masih menjadi guru Bahasa Jerman. Tetapi, Tua Enge sudah bukan lagi guru ilmu alam, olahraga, dan baris berbaris. Kendati masih sering terusik dengan baris berbaris siswa yang tidak rapi, Tua Enge sudah tidak bisa menipu usia. Namun kami tetap beruntung. Kami masih mengenyam gemblengan dari sisa kecil guru serba bisa hasil racikan pendidikan gymnasium tempo dulu. Sebab, di tangan mereka, apalah artinya sebuah profesi tanpa totalitas. Karena itu, kami tidak saja mempelajari Bahasa Jerman, tetapi juga menyerap sebuah peradaban, ilmu hidup, dan logika hati. Kecuali, mungkin soal buang angin di depan kelas.


Saat menjalani usianya di periode 80 tahun, Tua Enge sudah tidak mengajar sama sekali. Bahasa Jerman diambil alih mantan siswanya Romo Beni Lalo. Aktivitas di polik sudah mulai berkurang, sejak Tua Enge jatuh di tangga depan polik. Hidupnya praktis bersalin dari kamar pribadi, kapel, dan Biara Karmel.


Ruang geraknya yang mulai terbatas itu tidak pernah mengendurkan kurban dirinya bagi sesama dan Tuhan. Bagi Seminari Mataloko, semua mantan muridnya, anak-anak asuhnya di Polik, dan semua yang sudah sedang menetek dalam kurban dirinya, Tua Enge adalah elemen yang tak terpisahkan. Dia berdiri dan terhubung pada lingkaran komunitas itu. Tanpanya, individu dan kelompok dalam komunitas itu tidak akan pernah terhubung atau disebut lingkaran.


Jika kita percaya bahwa hidup, individu-individu, dan Tuhan adalah Providentia Dei. Lalu kita terhubung satu sama lain berkat pancaran dari logos Allah, yaitu sebuah persekutuan yang tak terpisahkan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Lantas, posisi Tua Enge tidak berlebihan adalah personifikasi Bapa, yaitu Dia yang berdaya menciptakan dan mengilhami. Kita tidak lebih dari Putra yang hingga kini terus menerus dicobai dari Padang Gurun hingga ke Taman Getzemani hanya untuk sekedar mengiyakan Jalan Salib.


Bahkan saat ini, tatkala Tua Enge hanya bisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hidupnya bergantung pada tabung oksigen dan uluran tangan orang lain. Namun, sesungguhnya Roh Kudus yang meruah dalam diri Tua Enge, dalam perjalanan totalitas dirinya yang panjang, tengah hidup dan mendorong Putra-Putra di medan tempur untuk meneladaninya. Sebab, yang ditunjukkan Tua Enge sudah lebih dari cukup untuk tidak bisa dicapai, kecuali ketika terus menerus Putra-Putranya dicobai. Dan di sinilah posisi Tua Enge sebagai yang mencipta dan mengilhami, sebagai Bapa. Untuk itu, Tua Enge tidak bisa tergantikan. Dia akan terus hidup, bergerak, mencipta, dan mengilhami dalam ruang terbatasnya sekalipun.


3


Tua Enge dikabarkan dalam kondisi kritis dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Bajawa pada 7 Februari, malam kemarin. Menempati salah satu tempat tidur di Ruangan ICU RSU tersebut. Itu berita yang kami dengar dari Almamater. Berita itu cepat tersebar ke segala penjuru dunia melalui jejaring sosial, poros kekuatan abad ini. Gelombang informasi itu membangunkan kembali memori Putra-Putranya di medan tempur. Putra-Putra kembali ke basis lingkarannya, kepada komunitas, dan asal muasal dirinya.


Serta merta doa pun terpanjatkan dari bibir sejumlah Putera di mana pun berada. Lingkaran, komunitas, dan persekutuan itu sepertinya mendapat api Roh Kudus baru. Lidah apinya menjilat dan membakar, terutama demi pembasuhan dan pembaruan.


“Terima kasih untuk kasih, teladan, dan kesetiaanmu merawat kami. Salam dan doa kami menyertaimu, semoga kasih-Nya menemanimu di usia senja ini,” ungkap salah satu mantan muridnya dari Roma.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Turut mendoakan Pater mewakili teman-teman dari Surabaya. Teringat semangat kasih dari Pater yang tiada taranya merawat seminaris yang sakit. Viele Danke, God Bless You,” kicau alumni Seminari Mataloko dari Surabaya.
“Doa kita untuk Pater. Pribadi yang luar biasa, imam yang saleh dan suci, penolong banyak orang. Pater, Tuhan memberimu yang terbaik. Doa dan cinta kami,” ujar alumi Seminari Mataloko dari Jakarta.  
“Pater pribadi yang ulet, lincah, gesit, disiplin, serta sosok yang nyaris sempurna. Doa kami menyertai Pater.” Kata salah satu alumni Seminari Mataloko dari Depok, Jawa Barat.


Tidakkah kita menyadari ini, bahwa lingkaran doa dalam komunitas, sebagaimana layaknya sebuah perayaan ekaristi tengah terbentuk dari doa dan refleksi kita akan sosok Tua Enge? Dia sekali lagi menjadi tabib dan guru yang melampaui semua sekat dan batas dan mengajak kita untuk berdoa, refleksi, dan membarui diri tentang kurban kita.


Doa, refleksi, pembaruan diri, dan kurban. Rupanya inilah resep umur panjang Tua Enge. Seorang yang beruntung saya kenal di hari-hari terakhir hidupnya, yang menjalani hidupnya sama seperti Tua Enge mengatakan kepada saya. “Hidup, apa itu hidup kalau bukan pengabdian. Jika kita berhenti mengabdi dan merencanakan hidup, Tuhan pasti akan berkata untuk apa berlama-lama menahan orang ini. Lebih baik cepat Saya panggil orang ini sebelum dia berbuat dosa lagi.” Dan betapa bahagianya dia, “Orang yang saya kenal itu meninggal pada usia 77 tahun di saat dia sedang merencanakan hidup dan mengabdi kepada sesama.”


Benar. Bahkan rencana Tuhan pun dikudeta hanya oleh sebegitu berharganya pengabdian yang tuntas kepada sesama. Nabi Nuh dalam Kisah Air Bah begitu sulit mencari dua tiga orang yang mengabdi secara tuntas kepada sesama dan Tuhan, hanya supaya membujuk Tuhan untuk tidak menurunkan Air Bah.


Tua Enge dulu dan kini sudah melampaui dirinya dan keterbatasan ragawinya untuk mempersembahkan diri kepada sesama. Atas cara itu, Tua Enge sedang mengorbankan dirinya di atas altar untuk sebuah ekaristi dari perayaan persekutuan kepada Bapa Putera dan Roh Kudus. Dia selalu menjadi “roti” dan “anggur” yang menghidupkan dan menyalakan api, agar Putra-Putranya tidak jemu-jemu berdoa, refleksi, membarui diri, dan berkurban. Teladan hidupnya selalu akan menjadi mesin waktu untuk mengingatkan kita soal resep umur panjang dan cara mengkudeta rencana Tuhan.


Yah, benar. Tuhan telah membangunkan Tua Enge dari masa kritisnya karena Tuhan masih membutuhkan kehadiran Tua Enge untuk menghidupkan dan menyalakan api pada ekaristi komunitas. Karena Tua Enge telah menyulut bibir dan hati kita untuk berdoa, refleksi, membarui diri, dan berkurban. Dalam dan melalui Tua Enge, sebuah simbol tentang biji sesawi itu tengah berbuah lebat dan memetik panen di kebun Tuhan.


Tua Enge, kau akan tetap hidup dalam lingkaran hati, jiwaku, komunitasku, gereja, dan bangsaku.(*)   

Kamis, 11 Agustus 2011

Gereja Harus Bertobat

Segera di toko buku anda!

Penulis         : Alexander Yopi
Harga           : Rp 45.000
Penerbit       : Lamalera
Tgl Penerbitan : Juli 2011
Bahasa         : Indonesia
Halaman       : 158 hal
Ukuran         : 120x190 mm

K
endati melakukan banyak perbuatan besar dan mukjizat, Yesus tidak serta merta disebut Tuhan. Sebagian mengenal Yesus sebagai Yohanes Pembabtis, Elia, atau nabi-nabi terdahulu yang bangkit (bdk Luk 9:18-19). Orang farisi, ahli Taurat, dan pemerintahan Romawi malah menganggap Yesus sebagai penentang, pemberontak, dan penghujat tradisi Yahudi.

Hingga akhirnya Yesus wafat di salib, semua orang pun tidak serentak mengamini bahwa Yesus adalah Tuhan. Banyak yang menyesal bahkan ikut menyoraki Dia sebagai tokoh pembebas yang gagal. Sementara itu, para murid-Nya yang dekat dengan hidup dan karya-Nya tercerai berai dan kebingungan dengan nasib Sang Guru. Ada yang menyangkali Yesus, ada yang bunuh diri, dan ada yang bersembunyi tak tahu rimba.

Namun, berkat kehadiran Yesus yang melampaui ruang dan waktu, yang ditandai dengan kebangkitan lalu penampakkan, Dia telah menunjukkan betapa kehadiran-Nya selalu konsisten dari awal hingga kini. Iman dan keyakinan akan Sang Guru itu pelahan-lahan menjelma menjadi jawaban atas kehidupan, menjadi pintu gerbang menuju mukjizat dan perbuatan besar dalam kenyataan. Lantas, Dia yang semula hanyalah manusia biasa, seperti karunia yang diperoleh Yohanes Pembabtis, Elia, atau nabi-nabi terdahulu kini disebut sebagai Tuhan oleh jumlah sebanyak pasir di laut dan bintang di langit.

Kepenuhan janji itu sudah nyata dalam diri Yesus. Tuhan kini telah menjamah manusia menurut arti kedagingan dan kemanusiaan melalui peristiwa inkarnasi. Ternyata, Tuhan itu begitu dekat, hidup dalam, bersama, dan menjadi manusia. Dia memahami diri-Nya dalam cawan manusia untuk berkomunikasi seturut dinamika ciptaan-Nya dan menyakinkan diri-Nya sendiri bahwa kerinduan terbesar ciptaan-Nya adalah berada dalam Rumah Bapa.

Berkali-kali Tuhan ingin menguji kesetiaan manusia, ingin meyakinkan diri-Nya sendiri bahwa manusia sedang mencari diri-Nya. Ujian itu semula dititahkan melalui janji kepada Abraham, Ishak, Musa, Yakub, kemudian kepada bangsa Israel dan berpuncak pada Putera-Nya yang menjelma menjadi manusia. Keyakinan itu menjadi purna oleh kerinduan yang teramat sangat akan seruan Putera di salib: Eloi Eloi Lamasabaktani! Bapa tidak cukup hanya dengan mendengar keluh kesah Putera, “Biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu.” Hanya dengan “Allah Ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan Daku,” mata hati Bapa pun impas.

Manusia, sebentuk Putera di salib, pada ujian demi ujian, pada salib demi salib, keluh kesahnya hanya terarah pada kerinduan untuk kembali ke Tanah Terjanji yaitu Rumah Bapa.

Pada tahap tersebut, Bapa pun menjadi maklum. Bahwa pengakuan iman dan pencarian akan Tuhan tidak bisa dipaksakan, apalagi melalui hukuman serupa kutukan atau tulah. Bangsa Israel mengalami “kemurkaan Allah” karena Tuhan cemburu atas hati manusia yang seolah-olah mendua tersebut. Karena itu pula, Bangsa Israel dicintai-Nya melebihi bangsa-bangsa lain. Melalui Putera-Nya, Bapa menyimpulkan bahwa kembali ke Rumah Bapa membutuhkan sebuah proses. Bahwa Bapa akan membiarkan anak-anak-Nya memilih jalannya hingga akhirnya anak itu pun berseru “Eloi Eloi Lamasabaktani” seperti seruan kerinduan Putera-Nya kembali ke pangkuan Bapa.
***
WS Rendra, Si Buruk Merak itu, pernah melontarkan pujian kepada suku bangsa Flores. Dalam orasinya berjudul “Selamatkan Kekayaan Negara dengan Kedaulatan,” Rendra memuja Flores sebagai suku bangsa yang tidak pernah ditaklukkan di Tanah Air. “Begitu kuatnya budaya yang melasaki jiwa orang-orang Flores itu, sehingga mereka memiliki kedaulatan dalam dirinya sendiri,” kata Rendra. “Yang terjadi di Flores adalah perpaduan yang kental antara budaya lokal dan budaya modern, antara agama dan kepercayaan tradisional, antara bumi, air, api, dan manusianya.”

Demikian juga kehadiran para misionaris awal di bumi Flores. Betapa takjubnya mereka dengan kepercayaan agama alam yang sudah bertumbuh di Flores, sehingga pewartaan akan kabar gembira Kristus itu tidak perlu disampaikan dengan susah payah. “Mereka telah beriman,” sebelum mengenal Kristus. Bahwa Flores adalah gens naturaliter Christiana, sebuah bangsa yang secara alamiah bersifat Kristen. Mereka hanya perlu dijelaskan bahwa yang diimani sebagai sesuatu yang tidak dikenal itu adalah Kristus. Karena itu pulalah, agama Katolik mendapat tempat yang istimewa di hati masyarakat Flores.

Kendati secara alamiah sudah bersifat Kristen, Flores tetaplah gens candida sed ruda, sebuah bangsa yang suci namun terkebelakang. Selanjutnya karya keselamatan Kristus di bumi Flores itu hadir bersama upaya pencerdasan dan modernisasi. Kabar gembira tersebut tidak boleh berhenti hanya pada pembabtisan, tetapi perlu bekerja menjawabi tantangan zaman. Sebab kehidupan iman, yang bersandar pada sabda dan janji tidak bisa mengelak dari pemenuhan kebutuhan manusiawi.

Setelah Sang Guru mengajar dan ingin mengasingkan diri dengan perahu ke tempat sunyi, banyak orang malah mengikuti Dia. Hingga menjelang malam, orang banyak itu tidak juga beranjak pergi. Lalu, murid-murid Sang Guru meminta Dia untuk menyuruh banyak orang itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.

Namun, Sang Guru berkata lain, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Lalu para murid-Nya memberikan lima roti dan dua ikan kepada Dia, dan Dia pun memecahkan roti sehingga semua orang bisa makan.(bdk Matius 14:13-21)

Misionaris awal di Flores membesarkan iman umat melalui pendidikan, pertanian dan perkebunan, pertukangan, dan peternakan. Mereka sadar betul bahwa tantangan zaman, terutama bermuara pada persoalan keterbelakangan di satu sisi dan modernisasi di sisi lain akan menghimpit sabda Tuhan itu di sebuah tanah kersang. Alhasil, benih itu sebagian hanya akan jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di tengah semak duri, tanpa bisa berbuah banyak (bdk Mat 13:1-9). Karena itu, iman umat di Flores itu perlu terus didampingi dan dipupuk sehingga benih yang sudah ditaburkan tersebut tumbuh gemuk pada lahan yang subur.

Sama halnya dengan perbuatan besar Yesus memberi makan lima ribu orang supaya sabda Tuhan yang sudah diwartakan itu tumbuh subur dan berbuah banyak. Melalui pewartaan yang kontekstual tersebut, para misionaris awal di Flores memperoleh banyak tuaian. Gereja di Flores pada masa itu menjadi sangat berkarakter karena berwajah manusiawi dan berhasil membawa iman umat pada kemenangan salib. Iman para misionaris yang bersumber pada inkarnasi, pada gerak memahami tantangan zaman, pada kerelaan untuk dilahirkan kembali bersama cawan Flores akhirnya mengubah perwajahan iman masyarakat Flores secara kontekstual.
***
Kontekstualisasi selalu dalam arti aplikasi. Kontekstualisasi bergerak antara kondisi dan teks. Kontekstualisasi akan berhenti menjadi aplikatif jika teks tidak bisa menjawabi kondisi riil dan kondisi riil tidak mampu mengilhami teks berbicara. Karena itu, kontekstualisasi tidak bisa dibaca dan diterjemahkan sekali.

Upaya yang sudah dilakukan misionaris awal sebagai langkah menyuburkan iman umat sudah berjalan bertahun-tahun. Dalam daur waktu itu, tantangan zaman masyarakat dan umat di Flores pun berubah. Sayangnya, perubahan masyarakat dan umat di Flores saat ini justru dibalut dengan stigma kemiskinan. Telah lama Gereja hadir, bahkan makan dan minum dari bumi Flores sejak para misionaris awal memperkenalkan Kristus. Kendati demikian, Flores tidak pernah beranjak dari stigma kemiskinan. Apa yang Gereja lakukan sampai Flores tetap miskin?

Ketika misionaris awal membesarkan iman umat di Flores, mereka serentak memperkenalkan ilmu pengetahuan dan daya penerobosan budaya alternatif melalui pendidikan yang mengikuti arus zaman. Flores saat itu bahkan lebih intelektual ketimbang masyarakat pulau lain di daratan Indonesia. Pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan merupakan cara pandang Gereja memperbanyak dua ekor ikan dan lima ketul roti sehingga bisa memberi makan banyak orang. Gereja tanpa takut bersentuhan dengan dunia.

Di luar Flores, ilmu pengetahuan yang bermuara pada keterampilan dan spesialisasi saat ini berkembang dengan cepat. Pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan sudah bukan masalah tradisional. Berbagai pola industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi yang bertumpu pada manajemen dan jiwa wirausaha yang profesional mengubah pola mata pencaharian tradisional tersebut. Fisik dan olah alam bukan lagi tujuan utama. Fisik dan olah alam hanya merupakan pemicu untuk pengembangan sumber daya manusia. Sementara itu, pintu investasi dibuka supaya arus modal bisa menjalari aktivitas ekonomi. 

Gereja, masyarakat, dan umat di Flores justru tengah berhenti berproses. Pengetahuan, keterampilan, dan manajemen lama terus dipertahankan. Ketika daerah-daerah lain mulai merasakan buah dari mata rantai ekonomi akibat keterbukaannya pada perubahan cara pandang, pengetahuan, keterampilan, dan manajemen yang selaras zaman, Flores tetap pola lama. Tidak heran Flores pun ketinggalan. Iman dan denyut nadi kehidupan umat dan masyarakat pun berada di ambang krisis.

Kemiskinan hanya merupakan satu indikasi dari sekian banyak indikasi yang bakal muncul di Flores akibat kelesuan menghidupkan iman akan inkarnasi Kristus. Ketika agama sudah tidak aplikatif, tidak mampu memberikan lima ekor ikan dan dua ketul roti, iman akan yang ilahi itu kembali masuk dalam gua tak berpengharapan. Persis seperti kondisi para murid yang ditinggalkan Yesus karena mati dan dikuburkan. Rasa frustrasi, gamang, tak punya pegangan menyebabkan iman menjadi sangat kerdil dan rentan untuk dimobilisasi.

Gereja di Flores saat ini terlalu takut dan skeptis dengan segala perubahan yang sedang terjadi di luar. Ketakutan untuk menceburkan diri dalam dinamika dan aktualisasi dunia. Mengadopsi berbagai informasi dan perkembangan baru secara aplikatif. Sumber dari ketakutan itu adalah dikotomi yang tajam antara dunia dan kerajaan Allah. Dunia dan yang profan terlanjur terpasung dalam ideologi sumber dosa. Kelas dua. Materialistik. Jasmaniah. Kapitalistik. Tidak adil. Memiskinan. Mudah luntur dan tidak abadi. Terbalik dengan dunia ilahi. Kerajaan Allah. Yang sakral dan suci. Rohaniah. Bertahan lama. Abadi.

Sikap Gereja di Flores berbeda dengan Gereja universal lainnya yang hidup berdampingan dengan kemajuan zaman. Dikotomi yang dipelihara Gereja di Flores justru diimani Gereja di luar Flores sebagai sebuah tantangan untuk membumikan iman, menginkarnasikan karya keselamatan yang sudah dirintis Sang Guru. Ilmu pengetahuan, industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi bukan merupakan cara pandang yang bertentangan dengan hakikat Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan. Dengan menceburkan diri dalam kemajuan zaman itu, gereja sedang melakukan proses inkarnasi untuk secara kritis menawarkan dua ekor ikan dan lima ketul roti supaya bisa dimakan banyak orang.

Banyak dari kalangan Gereja, terutama para pastor sering berbicara soal investor dan keinginan untuk berinvestasi di Flores sebagai gerbang masuknya kapitalisme. Ketika gerbang itu dibuka, segera sesudah itu kapitalisme akan mencengkeram bumi Flores. Ketidakadilan, kemiskinan, tanah, mata pencaharian masyarakat akan direbut. Ketakutan demi ketakutan pun didaraskan sebagai penyejuk iman, yang sebenarnya lebih merupakan doktrinasi untuk anti terhadap perubahan.

Kemudian legitimasi atas doktrinasi itu dilengkapi dengan penghiburan bahwa "upahmu akan besar di surga." Proses industrialisasi, fabrikasi, dan kapitalisasi adalah semata-mata urusan duniawi, yang tidak abadi. Kemiskinan saat ini lalu dipandang sebagai takdir. Nanti Tuhan Tolong.

Ketika seorang karyawan pastoran atau pekerja di sebuah biara di Flores mendapat upah lebih kecil dari standar upah minimum nasional, Gereja mengklaim bahwa kekurangan dari upah itu merupakan cinta kasih. Bahwa Tuhan akan melihat kekurangan itu sebagai bagian yang akan dilunaskan-Nya sendiri di surga kelak. Namun dalam kenyataan, akibat upah yang kurang itu, lingkaran setan pun menjebak orang, keluarga, dan masyarakat dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Masyarakat dan umat sesungguhnya lapar setelah mendengarkan sabda Tuhan. Tetapi cinta kasih mengusir mereka untuk mencari makan sendiri. Gereja tidak mengindahkan perkataan Yesus, "Kamu harus memberi mereka makan."

Banyak keputusan pastoral Geraja yang diproduksi malah tidak mengindikasikan bahwa Gereja sedang menampilkan profil dirinya sebagai perpanjangtanganan Allah yang sedang berkomunikasi dengan cara yang teramat dekat dan personal. Banyak juga keputusan dan sikap gereja baik secara kolektif maupun personal tidak diproduksi secara matang didapur refleksi yang mengutamakan otokritik dan kritis. Gereja malah mengabaikan orang-orang yang teramat dekat dengan dirinya. Gereja malah membangun kembali Tahtanya yang arogan. Gereja malah mengutamakan dirinya sendiri.

Gereja mengalami kelesuan untuk melakukan otokritik dan kritik. Tidak hanya sekedar melemparkan suara keras seolah-olah suara keras itu mewakili sikap profetis. Gereja malah ikut terpelintir oleh godaan duniawi, memihak yang satu dan memaksa yang lain. Gereja terkotak-kotak dalam penolakan dan pro status quo. Tanpa mendalami lebih jauh substansi, esensi, dan eksistensi sikap penolakan dan pro status quo tersebut.

Ada sebuah proses yang berhenti. Gereja bertindak seolah-olah begitu memahami karya keselamatan Tuhan sehingga memaksa dan lupa berproses. Padahal, Bapa sendiri butuh proses yang panjang sebelum mengamini bahwa keselamatan itu berlangsung secara personal dalam pergumulan manusia dengan pilihannya. Hanya inkarnasi atau gerak menjadi manusia, Tuhan bisa memahami manusia yang seolah-olah berlari di hadapan-Nya. Tuhan sendiri pernah bertobat. Gereja pun harus bertobat.(*)

Senin, 08 Agustus 2011

Madre, Dee, dan Prokreasi Sejuta Umat

Madre ialah prokreasi Dewi Lestari. Dee, demikian dia dikenal, terlahir kembali setelah lama terbenam di Kota Supernova. Dia dengan sejuta parabel tertancap di otaknya itu  memilih menggunakan kembali penanya untuk mengurai sakit kepalanya. Sulit membayangkan hidup berdampingan dengan sejuta parabel di otak seperti yang dijalani Dee. Betapa Dee akan terus terusik, terganggu, bahkan tersiksa. Lebih-lebih ketika penanya gagal bertuah dan melahirkan parabel itu sesuai yang dimauai otaknya.



Sampai Madre itu lahir, Dee pun menjadi maklum untuk tidak lagi melawan arus. Siksa batinnya yang selama ini ditanggung akibat beranak pinaknya parabel dalam otaknya itu telah menemukan ari-arinya. Sebenarnya bukan Dee yang menemukan ari-ari itu. Dee hanya tidak mau melawan arus. Tidak mau munafik. Tidak mau menyangkal dirinya lagi. Tidak ingin menjadi layang-layang lagi. Dee hanya mau berterus terang, lebih bersabar untuk membiarkan parabel yang beranak pinak dalam otaknya itu memilih dirinya untuk berdifusi dan bermetaformosis. Dee hanya tidak ingin melawan kehendak pikiran, hati, dan badannya untuk dilahirkan kembali.
Kekhasan penceritaan Dee adalah parabelistik, dari Supernova hingga Madre. Bagi Dee, parabel adalah gaya penceritaan bak sebuah perkawinan yang romantis dan mesrah. Ada konflik, ada krisis, tetapi konflik dan krisis itu saling mengisi secara romantis dan mesrah. Namun, romantika itu hanya bumbu yang dipakai Dee untuk menarik perhatian pembaca dan penggemarnya pada proses perkawinan yang sesungguhnya, yakni pembuahan, pembelahan diri, dan siap dilahirkan kembali.
Sudah tentu Madre adalah kisah nyata Dee. Atau anggaplah sebagai kasus pencarian Dee atas Madre dirinya. Banyak peristiwa yang melingkupi Dee sebelum Madre, yang menggayut, mengusik, dan menyiksa pikiran, hati, dan tubuhnya. Kelahiran, perpisahan, pertemuan, jatuh cinta, kepercayaan adalah bagian dari kisah nyata, kisah pencarian Dee. Kendati Madre adalah kerja evolusi, dengan cakap Dee telah mengubahnya menjadi kerja revolusi. Dee tetap tidak ingin menjadi tokoh utama. Dia melebur. Dia hanyalah tangan dan kaki parabel yang berkecamuk di otaknya, yang membelah dirinya, membuahi, dan melahirkan kembali dirinya. Dee mengajak semua orang mencontohi inkarnasi dari perkawinan pena dan hatinya, tubuh dan jiwanya.
Madre tidak lain adalah esensi, yaitu sesuatu yang berkecamuk, bergelora, berkecambah dalam diri seseorang. Apapun seseorang menjadi, keberadaan dirinya sangat ditentukan oleh baku mutu yang menjadi motor dalam dirinya. Esensi itu tidak mungkin dipaksakan, tidak mungkin dijadikan, tidak mungkin pula dicuri. Dia memilih sendiri tempatnya, bertumbuh tanpa diminta, beranak pinak tanpa dibuahi. Dia dilahirkan dalam potensia, pada kemampuan seseorang untuk menjadi. Dia adalah adonan hidup yang siap dibentuk dan membentuk.
Seseorang yang telah dipilih oleh Madre tidak mungkin akan menyangkali keberadaan Madre. Sekali Madre melekat, dia tidak akan bisa dihapus. Melawan arus, munafik, menipu diri, atau menyangkali Madre adalah pekerjaan yang sia-sia. Atas cara tertentu, Madre akan memanggil pulang ketersesatan itu dan membuat seseorang mau tidak mau mengakui Madre dalam dirinya.
Demikian yang terjadi pada Madre dan Tansen. Madre telah memilih Tansen, apakah Tansen sanggup menyangkalinya? Tidak, dalam pencariannya Tansen justru menemukan esensi dirinya, panggilan jiwanya bersama Madre. Sejauh dia berlari, sebisa dia menyangkal, Tansen tidak mampu terus berlari dan melawan arus jiwanya.
Demikian pun yang terjadi pada Che dan Starla. Pada jiwa mereka, Madre telah memilih. Che dan Starla sama-sama tidak mau tahu, berlari, menjauh tinggi bak layang-layang yang terbang bebas. Namun, mereka lupa, tumpuan layang-layang hatinya itu telah terpatri satu sama lain pada Madre yang sama. Sejauh mereka berlari, sejauh mereka terbang, sesungguhnya mereka telah terikat satu sama lain.     
Hubungan Madre dan seseorang adalah hubungan prokreasi, saling melahirkan satu dengan yang lainnya. Madre yang telah memilih itu membiarkan dirinya menganak pinak dari kelahiran demi kelahiran seseorang. Kemampuan Madre adalah melahirkan bahkan dalam beratus-ratus kali. Sementara itu, seseorang yang telah terpilih itu mencapai kelahiran demi kelahiran dalam beratus-ratus kali berkat kesempatan, peluang, dorongan, dan tuntunan Madre.
Karena itu, Madre akan mati jika tidak melahirkan atau mencapai kelahiran. Kehilangan Madre sama saja dengan kiamat untuk seseorang. Demikian pun jika seseorang itu berhenti melahirkan, Madre pun mati. Madre tidak hidup dalam kulkas beku. Madre tidak bisa hidup tanpa Tansen. “Madre jangan dibikin nganggur,” kata Pak Hadi kepada Tansen. Karena itu, Madre akan mengusik dan menyiksa seseorang untuk menemukan dirinya dan melahirkan. Madre perlu kreativitas seseorang, perlu pikiran, hati, dan tubuh seseorang untuk melanjutkan hidupnya. Ketika dia hidup, dia melahirkan oleh pikiran, hati, dan tubuh seseorang, Madre akan memberi kelahiran demi kelahiran baru baginya.
Yah, Madre adalah adonan hidup, panggilan jiwa, potensia yang tidak bisa berkembang biak tanpa belajar, memahami, bekerja keras. Sama seperti seorang ibu yang melahirkan dalam sebuah Rimba Amniotik, dia tidak hanya sekedar mengeluarkan sebentuk daging yang tertancap di rahimnya. Dia bukan sekedar seorang ibu yang bertugas melahirkan dan mengasuh. Lebih dari itu, dia yang disebut janin itu dan kemudian anak pada sisi yang lainnya adalah Madre untuk sang ibu. Dalam hubungan ibu dan anak, keduanya saling melahirkan dan dilahirkan.
Banyak orang sering kebingungan dengan sosok Madre yang lahir dalam dirinya. Mereka kadang pesimistis dengan Madre yang telah memilih dirinya untuk menjadi. Sejuta umat itu terus menerus menyangkali dirinya, melawan arus, menipu diri, atau tidak berani berterus terang. Dalam gerakan perlawanan itu, dirinya sekian tersiksa dan sekian tersesat. Madre terus menerus memanggil dan menuntun sejuta umat itu untuk mengenal dirinya. Madre ingin dirinya dan sejuta umat itu berprokreasi, melahirkan dan dilahirkan. Namun, akibat melarikan diri, Madre itu hanya bisa tersimpan di sebuah kulkas beku. Orang itu pun tinggal sebagai sebuah toko tua yang mati.
Dee tidak berhenti pada dunia yang pesimistis. Dee justru sangat optimistis. Selama masih ada Madre di kulkas, sedangkan dirimu berkelana tanpa tujuan, Madre tetap akan setia menantimu untuk melahirkan dan dilahirkan. Dia terus memanggil dan menyadarimu dengan cara yang paling menyakitkan sekalipun. Sejak menyadari adonan hidup yang tersimpan di kulkas itu, hidup Tansen pun berubah. Dari Tan de Bakker menjadi Tansen de Bakker. 
Optimisme Dee juga sangat sosial. Madre bahkan memberi hidup pada sesamanya yang lain yang telah kehilangannya. Asalkan saja sang empunya Madre di kulkas itu menyadari miliknya yang paling berharga, melahirkan dan dilahirkan, dan mengajak sesamanya yang lain yang kehilangan Madre itu untuk sama-sama dilahirkan. Bagi Mei, dia telah kehilangan Madre. Tetapi Madre memanggil dirinya melalui Tansen. Bagi Pak Hadi, Bu Sum, Bu Cory, dan Bu Dedeh, Madre memang bukan milik mereka. Madre tidak memilih mereka. Tetapi Madre yang sosial itu menunjukkan kemurahan panggilan jiwanya untuk orang-orang yang mendukung sang empunya Madre. Mereka ada dalam hubungan saling memberi dan menerima, melahirkan dan dilahirkan dalam dan bersama Madre.
Dee akhirnya seolah-olah sedang berkata, “Berhentilah menjadi layang-layang. Mari, lihat, dan kenalilah Madre dalam dirimu. Dia telah memilihmu. Dia telah lahir dari mula dalam dirimu. Pakailah Madre untuk melahirkan dan mencapai kelahiran baru. Tinggalkanlah toko lama, konsep lama, pikiran usang, hati lapuk, tubuh lusuh. Kenakanlah kelahiran baru oleh difusi dan metamorforsismu bersama Madre.” 
Atas perkataan itu, setuju atau tidak, Dee telah menjadi Madre untuk prokreasi sejuta umat. Dan kita pun tidak berhak untuk memilih. Dee yang telah memilih kita!(*)

Senin, 25 April 2011

Mengurai Jejak Frangky Sahilatua

Selamat Jalan Orang Pinggiran
Mengupas jejak seni Frangky Sahilatua di Nusa Tenggara Timur, khususnya di bumi Manggarai tidaklah bisa lepas dari seniman Flores asal Manggarai Ivan Nestoman. Frangky pernah melukis suaranya di belantika Flores melalui pena seni Ivan Nestorman pada lagu bercampur bahasa Manggarai E Wada. Syair lagu yang ditulis Ivan Nestorman itu tidaklah jauh dari ciri seni yang dihayati Frangky sebagai seniman akar rumput.
Seniman akar rumput adalah sebuah pilihan. Frangky meninggalkan industri musik karena baginya industri musik di tanah air sudah tidak sehat. Dia tidak ingin dikategorikan sebagai seorang selebritas. Semata-mata menghibur, beranak dari satu popularitas kepada popularitas lainnya, berkubang kemewahan melalui citra topeng, lantas melupakan tiras hidup faktual yang pedih dan getir.
Atas pilihannya itu, Frangky dijuluki sebagai seniman Troubadour. Seorang penyanyi yang tidak menghitung-hitung berapa upahnya. Dia lebih memilih menyanyi sesuai panggilan hatinya, yaitu panggilan untuk menjadi corong dari kehidupan akar rumput. Bernyanyi untuk menyerukan masyarakat yang masih terlilit dalam kebodohan, kemiskinan, ketertindasan. Bernyanyi untuk mengkritik sikap pemerintah dan penguasa yang seolah-olah menutup mata dan lamban dalam menanggapi kondisi akar rumput tersebut.
Franklin Hubert Sahilatua lahir di Surabaya pada 16 Agustus 1953. Pendidikan  terakhirnya ditempuh di Akademi Akutansi Surabaya. Karya pertamanya sebagai seorang penyanyi dimulai dengan album pertamanya yang diberi judul Senja Indah di Pantai (1975), berduet dengan adiknya Jeanne Sahilatua.
Album pertamanya itu nyaris menguburkan impiannya sebagai seorang penyanyi karena tak laku di pasaran. Namun, setelah menyanyikan syair lagu Ali Topan (1976) yang diperkenalkan Teguh Esha, nama Frangky mulai melambung di belantika musik nasional. Bersama Jeanne, album kedua Frangky bertajuk Musim Bunga (1978) meledak di pasaran. Frangky dan Jeanne benar-benar menguasai jagat musik  Indonesia. Setelah album kedua itu, duet Frangky dan Jeanne kembali mengeluarkan album berjudul Lelaki dan Rembulan (1992) yang sekaligus menjadi album perpisahan Franky dan Jeanne. Setelah itu, nama Franky pun mulai surut.  
Sebenarnya Frangky tidak sedang surut. Ruah seninya sedang bermetamorfosis menjadi seniman akar rumput. Tepat pada saat dirinya mengalami puncak kariernya sebagai penyanyi, panggilan jiwanya tengah membenturkan Frangky pada sesuatu yang selama ini tengah dicari. Sesuatu yang sebelumnya dari kejauhan memanggil dirinya, mengetuk pintu hatinya. Namun, sesuatu yang samar-samar itu belum mau menampakkan dirinya karena masih terhalang oleh obsesi Frangky sebagai murni seorang penyanyi di sebuah industri musik.
Secara tidak sadar, Frangky memang telah menyiapkan dirinya dalam sebuah kepompong metamorforsis menjadi penyanyi akar rumput. Dalam duetnya bersama Jeanne, lagu-lagu Frangky tidaklah lepas dari kicauan alam seperti Senja Indah di Pantai (1975), Musim Bunga (1978), Kepada Angin dan Burung-burung (1978), Dan Ketuk Semua Pintu (1979), Panen Telah Datang (1980), Siti Julaika (1982), Di Ladang Bunga (1983), Rumah Kecil, Pinggir Sungai (1984), Biarkan Hujan (1989), Langit Hitam (1992), Lelaki dan Rembulan (1992),  dan Menyambut Musim Petik (1986).
Solonya pun tidaklah lepas pula bak sebuah kuas seorang pelukis yang mencintai alam yang indah. Di antaranya Balada Wagiman Tua, Gadis Kebaya (1984), Biarkan Hujan (1985), Anak Emas, Lelaki dan Telaga, Kemarin, Kemesraan (1988).
Kesahajaan alam memang menjadi tema dan perwakilan Frangky berkicau dan melukis di belantika musik Indonesia. Frangky memandang Indonesia sebagai sebuah lekuk kuas di tangan sang pelukis yang menatap alam Nusantara penuh indah dan harmonis. Selain karena tema-tema itu, suaranya yang merdu merupakan personifikasi yang lengkap Frangky bak burung yang berkicau di sebuah alam yang bersahaja. Harmonis tanpa masalah, kecuali cuma hamparan keindahan.
Namun, watak alam yang bersahaja, pelukis panorama, bahkan burung yang sedang berkicau itu berubah sejak metamorfosisnya lengkap. Bersama Iwan Fals, Doel Sumbang, Emha Ainun Najib, Frangky menjelma menjadi kupu-kupu yang sulit dijumpai bahkan di desa-desa karena alam dan habitatnya telah terecoki. Frangky hanya nampak sebagai kupu-kupu untuk kaum terpinggir di Terminal (1993), Orang Pinggiran (1997), Menangis (1999), Perahu Retak (1995). Bahkan Frangky ingin menjadi kupu-kupu yang selalu dinantikan akar rumput sebagai seorang pemimpin yang seharusnya piawai meramu harmonisasi bangsa melalui Aku Mau Presiden Baru (2007), Saatnya Berterus Terang (1998).
Frangky menyadari alam yang bersajaha, panorama bangsa yang indah dan harmonis tempat burung berkicau merdu di negeri ini sudah memudar. Gadis Kebaya, Lelaki dan Telaga, Lelaki dan Rembulan, Musim Bunga, Musim Petik telah berubah menjadi Orang Pinggiran, penghuni Terminal, dalam Menangis mereka meratapi Perahu bangsa yang sedang Retak. Sulit bahkan tidak ada lagi Kemesraan, karena Terus Terang sudah menjadi hal yang mahal. Di akhir hidupnya, Frangky bahkan telah merasa menjadi Anak Tiri Republik dan negeri ini telah menjadi kampung sirkus melalui Sirkus dan Pangan.
Untuk sebuah pelosok yang bernama NTT, Frangky bersama Ivan Nestorman musisi asal Manggarai, Flores pernah mendaraskan E Wada. Di kancah nasional, NTT tergolong provinsi yang tertinggal, termiskin, tetapi terkorup itu Frangky bernyanyi:
Kenapa harus ada yang disingkirkan
Kenapa selalu ada yang harus dikalahkan
Oleh kekuasaan, oleh kesewenangan
Saudaranya sendiri

Kenapa harus ada darah yang diteteskan
Kenapa harus ada penggusuran dan pemusnahan
Sedangkan di dalam kasih sayang Tuhan
Kita bisa berbagi

E wada, e wada, e wada, caul mori mese
E wada, e wada, e wada, caul mori mese
Sangged one lino de mori de ngaranta

Sambeng koeng lakog du toke kebe
Dadang koeg lako du lupi ngampang
Ada yang menangis, luruh hatimu
Ada yang merintih, nyenyakkah tidurmu

E wada, e wada, e wada, caul mori mese
E wada, e wada, e wada, caul mori mese
Sangged one lino de mori de ngaranta

Sedangkan burung-burung membangun sarang anaknya
Sedangkan gunung-gunung memelihara hutannya
Sangged one lino de mori de ngaranta

Yang dirundung sepi, jenguklah hatinya
Yang dirundung sunyi, sapalah jiwanya

Selamat Jalan Frangky “Orang Pinggiran” Sahilatua, namamu tetap terpatri penuh “Kemesraan” dalam sanubari kami.(*)